Sinestesia Tetap dan Akan Selalu Menjadi Playlist Wajib


Sinestesia merupakan album ketiga dari grup musik indie-rock alternatif, Efek Rumah Kaca. Sinestia dirilis pada tanggal 18 Desember 2015, 7 tahun setelah album sebelumnya, Kamar Gelap.

Diawali pada 10 Juli 2015, Efek Rumah Kaca merilis Pasar Bisa Diciptakan ke radio di seluruh Indonesia. Sebulan kemudian mereka merilis lagu Biru, yang berisi lagu Pasar Bisa Diciptakan dan Cipta Bisa Dipasarkan melalui SoundCloud. Pada tanggal 18 September 2015, Efek Rumah Kaca menggelar konser tunggal bertajuk “Pasar Bisa Dikonserkan” di Balai Sartika, Bandung. Efek Rumah Kaca mengawali rilisan digital Sinestesia pada tanggal 18 Desember 2015 melalui iTunes. Pada tanggal 22 Desember 2015, Sinestesia akhirnya dirilis dengan format CD oleh Demajors Independent Music Industry.

Penantian selama kurang lebih tujuh tahun sejak album kedua Kamar Gelap yang rilis pada tahun 2008 akhirnya terbayarkan. Sepintas Sinestesia terlihat seperti mini album, hanya berisi enam lagu saja. Namun, lebih jauh, ternyata Sinestesia tidak hanya sesederhana itu. Efek Rumah Kaca berhasil membuat format baru, yaitu dari setiap track di dalam album ini terdapat gabungan beberapa lagu yang dipadukan dan akhirnya menjadikan setiap track di dalam Sinestesia berdurasi lebih panjang daripada lagu kebanyakan. Keunikan lain, setiap singlenya bertajuk kompilasi warna yang menggambarkan single tersebut. Merah, Biru, Jingga, Hijau, Putih, Kuning. Sesuai dengan tujuan awal album ini, Sinestesia berarti situasi atau aura tertentu yang bisa kita anggap sebagai gambaran ketika kita sedang mendengarkan suatu lagu.

Merah

Berisi tiga lagu berjudul Ilmu Politik, Lara Di mana-mana, Ada-ada Saja yang diaransemen menjadi satu track sebagai pembuka apik dari Sinestesia. Penggalan lirik Ilmu Politik selalu menjadi pengingat,

Dan kita arak mereka,

Bandit jadi panglima,

Politik terlalu amis,

Dan kita, teramat necis.

Lalu angkat mereka,

Sampah jadi pemuka,

Politik terlalu najis,

Dan kita teramat klinis.

Biru

Single Pasar Bisa Diciptakan yang sudah diluncurkan sebelum Sinestesia resmi dirilis, mewakili track kedua didampingi oleh lagu Cipta Bisa Dipasarkan. Dengan durasi 9.52 menit, Biru menggambarkan pemikiran tentang idelogi atau kecintaan terhadap sesuatu yang “tidak bisa diatur”, kebebasan dalam berkarya.

 Jingga

Single Hilang yang telah dirilis untuk mengenang tragedi 1998, dimasukkan ke dalam album mewakili track ketiga Sinestesia bersama lagu Nyala Tak Terperi. Durasi cukup panjang yaitu 13.28 menit. Jingga berhasil bicara tentang perasaan rindu dan kehilangan.

Hijau

Track keempat di Sinestesia yaitu Hijau. Melalui Hijau, Efek Rumah Kaca menjelaskan rasa kekecewaan melalui lagu bertajuk Keracunan Omong Kosong, diikuti dengan lagu Cara Pengelolahan Sampah.

Putih

Berisi dua lagu bertajuk Tiada (Untuk Adi Amir Zainun) dan Ada (Untuk Angan Senja, Rintik Rindu dan semua harapan di masa depan). Cerita tentang kepergian orang-orang terdekat yang terasa menyayat hati.

Kuning

Kuning menjadi track penutup di album Sinestesia. Bercerita tentang kedekatan manusia kepada Tuhannya melalui lagu Beragamaan dan Beragaman.

Selain format baru yang brillian, kemasan album dipenuhi dengan beberapa stiker, kartu pos yang diberi ilustrasi  dan kertas-kertas warna warni seperti judul-judul lagu yang ada di album. Melihat pencapaian Efek Rumah Kaca melalui album Sinestesia, sepertinya memang vakum berhasil mendewasakan musik mereka dan penantian yang benar-benar terbayar lunas. Menyenangkan.

Sebelumnya Captain Fantastic (2016): Merayakan Hidup tanpa Keramaian
Selanjutnya Tikai Berujung Apa?

Belum ada komentar

Tinggalkan pesan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *