Saya Mengingat Kematian Sjahrir pada hari Kelahiran Bung Karno


“Lama-kelamaan saya tahu bagaimana membebaskan diri dari perbudakan ilmu resmi (de slavernij van de offici le wetenschap). Otoritas ilmiah tidak terlalu berarti bagiku secara batin. Dengan begitu seolah-olah jiwaku semakin bebas, tidak ada nama besar dan tenar, yang resmi maupun tidak resmi, yang menguasai pikiranku untuk membutakanku dengan kehebatannya dan membuang atau membantai semua kegiatan orisinalku…. Yang lebih penting bagiku adalah bagaimana tiba pada kebenaran harmonis dan pribadi sifatnya.”

(Indonesische Overpeinzingen, 29 Desember 1936).

Syahrir meninggal dunia di Zurich, Swiss, tanggal 9 April 1966 dengan status sebagai tahanan politik mantan teman seperjuangannya sendiri, Soekarno. Tubuhnya kecil dengan tinggi tidak mencapai satu setengah meter, hanya 145 sentimeter dan berat badan 45,5 kilogram namun memiliki inteligensi mengagumkan. Inteligensinya semakin mengagumkan meski tanpa menyelesaikan pendidikan Hukumnya di Universitas Amsterdam sebagaimana Hatta dan kawan lainnya. Syahrir berkata bahwa seorang pemegang titel itu hanya “pemegang titel saja”, tidak lebih dari itu.

Mungkin memang kisah orang besar negeri ini selalu ditutup dengan cerita menyedihkan, terutama ketika kembali mengingat lelah yang telah dipersembahkan hanya untuk negeri tercinta. Akhir cerita Tan Malaka yang ditembak mati tentara republik, Soekarno pada akhirnya meninggal dalam kesendirian dan keterasingan, begitupun dengan Hatta yang hingga akhir hayatnya tidak mampu membeli sepatu Bally yang diinginkannya, atau jika belum cukup lihatlah Agus Salim yang bahkan semasa hidupnya berpindah dari satu kontrakan ke kontrakan lainnya. Tentu saja ini bukan pilihan yang menyenangkan.

Syahrir atau akrab dengan sapaan Bung Kecil, melalui diplomasinya menjadikan Indonesia sebagai negeri jajahan pertama di dunia yang masuk dalam agenda sidang Dewan Keamanan PBB. Pada tanggal 21 Juli 1965 Syahrir berangkat ke Zurich, Swiss untuk berobat setelah mendapat izin dari Soekarno. Meski diizinkan berobat ke luar negeri dan seluruh biaya perawatan ditanggung oleh pemerintah tapi status Syahrir tetap sebagai tahanan politik tanpa persidangan. Hatta, ssebagai sahabat seperjuangan dalam pidato perpisahan di Taman Makam Pahlawan Kalibata menegaskan bahwa Syahrir meninggal karena korban tirani. Syahrir dipuji dan dicintai bahkan oleh tokoh yang pemikirannya berseberangan dengannya. Panglima Besar Sudirman yang termasuk pendukung Tan Malaka memuji The Smiling Diplomat sebagai pemimpin yang jujur dan bercita-cita luhur. Padahal Sudirman dan Tan Malaka termasuk tokoh yang menolak jalur diplomasi melawan Belanda, sementara Syahrir lebih memilih jalur diplomasi.

Selesainya Panggung Politik.

Karir diplomasi Syahrir sebagai Perdana Menteri tidak seharum itu di kelompok pejuang. Puncaknya ketika Syahrir dan Bung Karno sering cekcok beradu mulut ketika keduanya disembunyikan ke Brastagi dalam kemelut agresi militer Belanda II. Maka dari itu, setelah era Demokrasi Liberal dimulai (1950), Sjahrir konsentrasi untuk membangun Partai Sosialis Indonesia (PSI) untuk menghadapi pemilihan umum pertama tahun 1955. Koran yang dipimpin Rosihan Anwar ini menjadi pendukung PSI, bersama Keng Po dan Indonesia Raya. Ketiganya, pada era 1950-an dan 1960-an merupakan koran terbesar di Indonesia. Sjahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia pasca kemerdekaan. Partai Sosialis Indonesia (PSI) menolak gagasan negara Uni Soviet, menurutnya pengertian sosialisme adalah menjunjung tinggi derajat kemanusiaan, dengan mengakui dan menjunjung persamaan derajat tiap manusia.

Pada bulan Agustus 1960, PSI bersama Masyumi dibubarkan oleh Presiden Soekarno atas pertimbangan Mahkamah Agung melalui Penetapan Presiden No. 7/1960. Syahrir dan tokoh-tokoh Partai Sosialis Indonesia lainnya kemudian dijebloskan ke dalam penjaran dan berstatus tahanan politik. Kematian Syahrir membuat Indonesia berkabung, melalui Keppres nomor 76 tahun 1966 menjadikan Syahrir sebagai Pahlawan Nasional.

Sebelumnya Jokowi Bukan Raja
Selanjutnya Hai, Manusia-Manusia Perayaan

Belum ada komentar

Tinggalkan pesan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *