6 Peristiwa Bersejarah Yang Terjadi di Bulan Ramadan


Memaknai Ramadan dalam Labirin Sejarah Indonesia, Pilajar mengajak untuk mengingat kembali peristiwa sejarah yang pernah terjadi. 

Pilajar percaya bahwa Ramadan harus tetap identik dengan jiwa produktif sebagaimana  Boedi Oetomo yang melaksanakan kongres pertamanya pada 7-9 Ramadan 1326 (3-5 Oktober 1908). Kemenangan juga penanda berakhirnya bulan suci Ramadan, tentang Pasukan “Soekarno” yang dipimpin Ahmad Yani memulai operasi penumpasan PRRI 27 Ramadan 1377 (17 April 1958) meraih keberhasilan ketika Ramadan di medan perang.

Peristiwa-peristiwa berikut semoga membuat kita semakin mengenal sejarah bangsa Indonesia. Bertepatan dengan bulan Ramadhan sama seperti waktu terjadinya seluruh peristiwa ini harapannya menjadikan kita semakin bersemnagat untuk melakukan hal-hal baik.

Kongres Pertama Boedi Oetomo di Bulan Ramadan

Pada 7-9 Ramadan 1326 (3-5 Oktober 1908), Kongres pertama Boedi Oetomo berhasil digelar. Dari kongres tersebut, diangkatlah Raden Adipati Tirtokoesoemo (mantan bupati Karanganyar) sebagai presiden Boedi Oetomo yang pertama. Kongres ini sendiri dihadiri sekitar 300 orang yang memenuhi gedung Kweekschool (Sekolah Pendidikan Guru).

Organisasi Boedi Oetomo didirikan oleh para pelajar STOVIA (Sekolah Dokter Pribumi) di Batavia pada tanggan 20 Mei 1908 yang pada tahun 1948 dijadikan sebagai Hari Kebangkitan Nasional oleh Presiden Soekarno  yang terus diperingati hingga saat ini.

Arti dari Boedi Oetomo adalah “Boedi” artinya perangai atau tabiat sedangkan “Oetomo” berarti baik atau luhur.

Organisasi ini menjalankan kegiatan di bidang sosial, ekonomi dan kebudayaan tetapi tidak politik. Pergerakan Boedi Oetomo sengaja menjauhkan dari aktifitas politik yang dikhawatirkan menganggu kepentingan kolonial Belanda.

Untuk membiayai kongres pertama Boedi Oetomo, para pelajar mengumpulkan dana dengan cara menjual arloji, kain panjang, ikat kepala, bahkan menyumbangkan tunjangan untuk bulan puasa. Selain itu, Dr. F.H. Roll, direktur STOVIA yang berpikiran maju dan mendukung pelajar berorganisasi, memberi pinjaman untuk kongres pertama Boedi Oetomo.

Bulan Puasa di Bawah Agresi Militer Belanda

Peperangan di bulan Ramadan pernah terjadi di Indonesia yaitu saat melawan Agresi Militer I Belanda, sementara Belanda menamakan sebagai actie product (aksi atau operasi produk). Belanda melancarkan agresinya pada awal puasa Ramadhan 1366 Hijriyah atau bertepatan dengan 21 Juli 1947, kemungkinan karena orang Indonesia yang mayoritas Muslim sedang berpuasa sehingga dalam keadaan lemah.

Di Sumatera Selatan, Agresi militer I Belanda dilakukan tepat di hari ketiga bulan puasa. Aksi itu dimulai setelah umat Islam baru saja selesai melakukan sahur sekitar pukul 04.00 pagi. [Dinas Sejarah, Kodam II Bukit Barisan, Sejarah perang kemerdekaan di Sumatera 1945-1950, Medan: 1984].

Para ulama se-Madura menggelar musyawarah di Pamekasan. Rapat akbar tersebut menghasilkan keputusan, “Bagi Umat Islam laki-laki dan perempuan wajib hukumnya ikut perang Jihad fi sabilillah mempertahankan Kemerdekaan bangsa Indonesia dan mengusir penjajah Belanda!”

Pada tanggal 29 Ramadhan 1366 H (16 Agustus 1947 M), tepatnya pukul 04.00 pagi, para pejuang memasuki Kota Pamekasan dengan dipimpin KH. Muh. Tamim dan K. Muththar. Pasukan Hizbullah dan Sabilillah, yang terdiri dari santri, keluarga pesantren, rakyat jelata, bergerak dengan tujuan merebut gudang senjata dan melumpuhkan markas Belanda.

Fatahillah Mengalahkan Penjajah di Bulan Ramadan

Pada awal tahun 1527, Fatahillah menggerakkan armadanya ke Sunda Kelapa, sementara pasukan Banten secara bertahap menduduki wilayah demi wilayah Pajajaran dari arah Barat. Pasukan Cirebon bergerak menguasai wilayah Pajajaran bagian Timur Jawa Barat.

Pertempuran di Teluk Sunda Kelapa berhasil dimenangkan oleh pasukan Fatahillah yang membuat Portugis memerintahkan armadanya kembali ke Malaka.

Peristiwa tersebut terjadi pada tanggal 22 Ramadan 933 H atau bertepatan dengan 22 Juni 1527 M. Keberhasilan Fatahillah merebut Sunda Kelapa kemudian disebut sebagai Fathan Mubina atau kemenangan yang nyata. . Kemenangan pertempuran ini menunjukkan kehebatan pasukan kerajaan Demak yang dipimpin oleh Fatahillah. Atas kemenangan ini, kemudian Fatahillah diangkat sebagai Gubernur di sunda Kelapa.

Nama Sunda Kelapa juga diubah oleh Fatahillah menjadi Jayakarta yang berarti kemenangan mutlak. Peristiwa tersebut akhirnya juga sejak tahun 1956 diperingati menjadi hari jadi Jakarta yang sekarang menjadi ibu kota Republik Indonesia.

Perang Jawa Libur Selama Ramadan

Perang jawa yang berlangsung dalam rentang 1825-1830 disebut sebagai The Great War in Java. Pangeran Diponegoro, muncul sebagai sosok sentral yang bertarung habis-habisan melawan penjajah di bawah pimpinan Jendral De Kock. Dalam satu babak, ada hal menarik menarik dalam pertempuran yang sering disebut Perang Diponegoro ini.

Pada 21 Februari 1830 atau empat hari menjelang bulan puasa tiba, Pangeran Diponegoro tiba di Menoreh, pegunungan perbatasan Bagelen dan Kedu wilayah pegunungan yang membentang di bagian barat Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta, hingga ke timur Kabupaten Purworejo dan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Kedatangannya berdasarkan kesepakatan yang dibuatnya bersama Jan Baptist Cleerens, pada 16 Februari 1830, di daerah Remokamal tepi kali Cincinggoling. Cleerens adalah utusan De Kock untuk menemui Diponegoro.

Kepada Wakil Angkatan Perang Belanda, Cleerens, Pangeran Diponegoro berkata;

“Saya dalam bulan Ramadan tidak mau mengadakan parapatan agung, karena Ramadan ialah bulan yang sangat suci,” sebagaimana ditulis M. Nasruddin Anshoriy Ch dalam Bangsa Inlander: Potret Kolonialisme di Bumi Nusantara (2008).

Di tepi sungai Progo, rombongan Pangeran Diponegoro menghabiskan waktu selama Ramadan untuk beribadah dan berlatih kanuragan. De Kock bahkan bermanis muka kepada Diponegoro dengan memberinya hadiah dan juga mengizinkan anggota keluarga Diponegoro yang ditawan di Yogyakarta dan Semarang, untuk bergabung dengan sang pangeran di Magelang. Belanda berharap dengan perlakuan seperti itu Diponegoro akan luluh dan akhirnya menyerah tanpa syarat, akan tetapi tekad Pangeran Diponegoro tetap tidak berubah dan menganggap Belanda sebagai musuh.

Tumenggung Mangunkusumo, mata-mata yang ditanam residen Valck dalam kesatuan Diponegoro, melaporkan bahwa Diponegoro tetap kukuh dalam niatnya untuk mendapat pengakuan sebagai sultan Jawa bagian selatan. Tapi perwira senior Belanda lain menyatakan bahwa Diponegoro sebagai ratu paneteg panatagama wonten ing Tanah Jawa sedaya (ratu dan pengatur agama di seluruh Tanah Jawa).

Setelah ramadhan berakhir Pangeran Diponegoro datang ke kediaman residen yang menjadi tempat perundingan tanpa  rasa curiga, ternyata Pangeran Diponegoro hari itu ditangkap tepat tanggal 28 Maret 1830 atau 2 hari setelah lebaran.

Kemenangan “Tentara Sukarno” di Hari Lebaran Menumpas Pemberontakan PRRI

Pada tanggal 15 Februari 1958, Achmad Husein memproklamasikan berdirinya Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dengan Syarifudin Prawiranegara sebagai perdana menterinyayang berpusat di Bukittinggi, Sumatera Barat. Alasan pembangkangan itu sebenarnya bersumber dari ketidakpuasan daerah yang merasa “dianaktirikan” pemerintah pusat.

Setelah pengumuman tersebut sampai ke telinga presiden, Kolonel Ahmad Yani langsung dipanggil ke Istana Negara. Tugas penting diberikan: operasi militer menumpas pemberontakan PRRI, Presiden memerintahkan Kolonel Yani segera memimpin pasukan dan mendarat di Padang, Sumatera Barat.

“…bagi saya hanya ada dua alternatif, pertama: terkubur di dasar lautan dan kedua, mendarat di Padang,” demikian dituturkan Kolonel Suhardiman yang dimuat dalam buku Ahmad Yani: Sebuah Kenang-kenangan. Jawaban Ahmad Yani setelah menerima perintah langsung presiden.

Staf komando operasi gabungan dibentuk dengan sandi “17 Agustus” oleh Kolonel Ahmad Yani yang dibantu oleh Letkol John Lie dari AL dan Letkol Wiriadinata dari AU. Operasi ini pun melibatkan Angkatan Darat (AD), Angkatan Laut (AL), dan Angkatan Udara (AU).

Kolonel Yani tahu dan sadar bahwa yang akan dihadapinya adalah teman-teman seperjuangan pada perang kemerdekaan. Namun sebagai prajurit ia juga sadar akan doktrin militer yang menuntut kepatuhan terhadap pemimpinnya, dalam hal ini Panglima Tertinggi /Panglima Besar Revolusi yakni Presiden Soekarno.

Tanggal 17 April 1958 yang menjadi hari pendaratan sudah lebih dulu bocor ditanggapi oleh Ahmad Yani bahwa kita jalan terus dengan taktik yang sudah di tangan pemberontak. Biar mereka tahu taktik kita.

Operasi pendaratan berjalan lancar yang hanya memakan satu korban di pihak TNI yang berasal dari Pasukan Gerak Tjepat (PGT) TNI AU. Operasi pendudukan berlangsung selama satu setengah bulan; lebih cepat dari yang diperkirakan yakni tiga bulan. Pada 24 Mei 1958, sebanyak 500 prajurit PRRI menyerahkan diri. Secara militer, perlawanan PRRI telah dipatahkan dan situasi mulai terkendali

Benny Moerdani yang kala itu ditugasi memimpin kompi Resimen Pasukan Komando Angkatan Darat (RPKAD) mengenang kepemimpinan Kolonel Ahmad Yani yang pandai mengambil hati penduduk setempat. Selama di sana, Kolonel Yani juga tidak pernah ragu berbaur dengan rakyat Padang melakukan sholat Jum’at bersama di masjid mereka.

“Jika timing mereka lebih tepat dan menyesuaikan proklamasinya dengan itu, maka peta militernya akan lain jadinya. Syukurlah, tidak terlambat kami mendarat!” ungkap Nasution dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 4: Masa Pancaroba Kedua. Sebenarnya PRRI tak lama lagi akan mendapat pesawat-pesawat Bomber-26 dari Amerika yang lebih mampu dari B-25 yang dimiliki TNI AU. Keterlibatan Amerika mendukung gerakan PRRI/Permesta memang didasarkan kekhawatiran Indonesia di bawah pemerintahan Soekarno menjadi negara penganut paham komunis.

Tidak lama setelah operasi berhasil digelar, hari raya lebaran pun tiba. Perang saudara ini memakan korban nyawa yang tidak sedikit. Di pihak Pemerintan sebanyak 983 orang. Luka luka 1695 orang. Sementara dari pihak pemberontak sebanyak 6373 orang tewas, 1201 luka-luka dan 6057 orang menyerah.

Indonesia Merdeka di Bulan Ramadan: Mengenang Proklamasi

Masyarakat Indonesia tentu sudah tahu bahwa proklamasi kemerdekaan Indonesia dibacakan tanggal 17 Agustus 1945, tapi mungkin masih banyak yang belum tahu bahwa peristiwa tersebut terjadi di bulan Ramadhan tepatnya 9 Ramadan 1334 H.

Berbagai peristiwa penting juga banyak terjadi sebelum proklamasi tersebut, salah satunya Pembetukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) satu hari menjelang malam pertama bulan Ramadhan. Tanggal 9 Agustus atau bertepatan dengan 1  ramadhan tentara sekutu menjatuhkan bom ke kota Nagasaki yang berakibat lumpuhnya kekuatan Jepang.

Pada tanggal 2 Ramadan, Soekarno, Hatta dan Radjiman menemui Marsekal Terauchi di Vietnam untuk membicarakan kemerdekaan Indonesia. Akan tetapi, pada  tanggal 14 Agustus (6 Ramadan) Jepang sudah menyerah. Ketika Soekarno, Hatta, dan Radjiman tiba di Indonesia, para Pemuda yang telah mendengar kabar menyerahnya Jepang kepada sekutu mendesak untuk segera memproklamirkan kemerdekaan namun ditolak. Penolakan ini membuat para pemuda menyusun siasat untuk merebut kekuasaan dari Jepang walau tidak disetujui golongan tua.

Pada malam hari tanggal 7 Ramadhan, pemuda dipimpin oleh Wikana mendatangi kediaman Soekarno untuk mendesak Proklamasi kemerdekaan dilakukan malam itu juga. Akan tetapi Sukarno tetap tidak mau yang mengakibatkan Soekarno dan Hatta diculik ke Rengasdengklok pada saat dinihari 8 ramadhan. Inilah alasan soekarno saat berbicara dengan pemuda dalam kondisi penculikan di rengasdengklok untuk memproklamasikan pada tanggal 17 agustus 1945

Soekaro :   ” Yang paling penting di dalam peperangan dan revolusi adalah saatnya yang  tepat. Di  Saigon, saya sudah merencanakan seluruh pekerjaan  ini untuk dijalankan tanggal 17 “.

Sukarni:  ” Mengapa justru diambil tanggal 17, mengapa  tidak sekarang saja, atau tanggal 16 ?”

Soekarno : “Saya seorang yang percaya pada mistik”. Saya tidak dapat menerangkan dengan pertimbangan akal, mengapa tanggal 17 lebih memberi harapan kepadaku. Akan tetapi saya merasakan di dalam kalbuku, bahwa itu adalah saat yang baik. Angka 17 adalah angka suci. Pertama-tama kita sedang  berada  dalam bulan suci Ramadhan, waktu kita semua  berpuasa, ini berarti saat yang paling suci  bagi kita. tanggal 17 besok hari Jumat, hari Jumat itu  Jumat legi, Jumat yang berbahagia, Jumat  suci. Al-Qur’an diturunkan tanggal 17, orang Islam sembahyang 17 rakaat, oleh karena itu  kesucian angka 17 bukanlah buatan manusia “.

Selama masa persiapan menuju kemerdekaan, Bung Karno meminta rekomendasi dari beberapa Ulama. Tanggal 17 Agustus 1945 merupakan rekomendasi yang diberikan oleh K.H Abdoel Moekti dari Muhammadiyah. K.H Hasyim Asy’ari memberikan kepastian kepada Bung Karno untuk tidak takut memproklamirkan kemerdekaan.

Penculikan berakhir ketika Mr. Achmad Soebardjo menjemput Soekarno dan Hatta untuk kembali ke Jakarta. Menurut Mr. Achmad Soebardjo, pukul 03.00 pada waktu sahur Ramadhan teks proklamasi didiktekan oleh Bung Hatta, dan di tulis oleh Bung karno. Berkat rahmat Allah proklamasi dilaksanakan pada hari Jumat, 9 Ramadan 1334 H atau tepat nya pada tanggal 17 agustus 1945.

Berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa proklamasi dilaksanakan pada hari Jumat, 9 Ramadan 1334 H (17 Agustus 1945). Kediaman Bung Karno Jalan Pegansaan Timur 56 Jakarta menjadi saksi peristiwa bersejarah tersebut.

 

Sebelumnya Menanam Harapan
Selanjutnya Launching ToMakassar: Bertemu, Berkolaborasi, Berkontribusi

Belum ada komentar

Tinggalkan pesan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *