Perimbangan Kekuatan Arab dan Israel pada Perang Arab-Israel Pertama


Sumber: Intisari Online

Selama ini sering dikatakan kalau antara Israel dengan Arab, diumpamakan seperti David dengan Goliath, seperti antara “anak kecil” menghadapi “raksasa”. David itu dianggapnya adalah Israel, sebaliknya Goliath adalah Arab.

Tapi benarkah anggapan tersebut? Benarkah kekuatan kedua belah pihak memang benar-benar tidak seimbang? Bagaimanakah kenyataan yang sebenarnya di lapangan, terutama dalam hal ini pada saat menjelang pecahnya Perang Arab-Israel 1948.

Bangsa Arab, sebelumnya disatukan dibawah kekuasaan Ustmani sampai dengan akhir abad 19. Namun negara-negara Eropa kemudian mencaplok sebagian besar wilayah bangsa Arab itu, Inggris mendapatkan Mesir, Irak, Transjordan, dan Palestina. Sedangkan Perancis menduduki Suriah dan Libanon. Disebabkan pembagian kolonial itulah yang menyebabkan awal keterpecahan bangsa Arab menjadi beberapa negara. Hal yang akan berdampak serius terutama mempersulit mereka untuk bersatu menghadapi ancaman dari luar.

Para penjajah Eropa kemudian meninggalkan negara-negara Arab dengan rezim penguasanya yang memiliki ambisi masing-masing untuk mendapatkan hagemoni terkuat di kawasan Timur Tengah. Contohnya adalah Raja Abdullah dari Transjordan (nama lama Jordania), yang berambisi untuk menyatukan Palestina dengan Transjordan dibawah kepemimpinannya sendiri. Ambisi tersebut ditentang keras oleh negara-negara Arab lainnya dan juga oleh sebagian besar pemimpin Arab di Palestina. Disisi lain karena Mesir pernah menjadi negara termaju pada masa Muhamad Ali awal abad 19 sebelumnya, masih merasa menjadi pemimpin di dunia Arab.

Keterpecahan negara-negara Arab diatas diperparah dengan kondisi kekuatan angkatan bersenjata negara-negara Arab yang mengkawatirkan menjelang tahun 1948. Mereka baru saja mendapatkan kemerdekaannya dari penjajahan Eropa, yang otomatis menyebabkan tidak adanya pasukan militer yang siap untuk menghadapi peperangan besar, karena sedikitnya  persenjataan modern yang dimiliki maupun kurangnya prajurit terlatih dan berpengalaman di dalam tubuh angkatan bersenjata.

Bertolakbelakang dengan keadaan bangsa Yahudi yang meskipun masih menjadi minoritas di tanah Palestina pada awal abad 20, tetapi perlahan-lahan namun pasti gelombang demi gelombang migrasi orang-orang Yahudi terus berdatangan ke tanah Palestina. Awalnya pemerintah pendudukan Inggris di Palestina sempat mengeluarkan peraturan untuk membatasi jumlah imigran orang-orang Yahudi yang masuk, tapi justru menimbulkan perlawanan organisasi-organisasi teroris Yahudi, seperti Irgun dan Lehi.

Respon dari peraturan tersebut, mereka melakukan tindakan-tindakan teror seperti perampokan bank, penculikan, pembunuhan, dan pemboman terhadap pemerintah pendudukan Inggris di Palestina.Salah satunya adalah pembunuhan Lord Moyne (Menteri Residen Inggris di Timur Tengah), pembunuhan Count Folke Bernadotte (diplomat dan mediator perdamaian Arab-Israel dari Swedia), dan pembomban Hotel King David (menjadi pusat markas besar pemerintah pendudukan Inggris di Palestina) yang memakan korban sampai sembilan puluh satu orang terbunuh.

Karena terus berdatangannya orang-orang Yahudi di tanah Palestina, menyebabkan jumlah Pasukan Pertahanan Israel terus meningkat drastis. Pasukan yang awalnya sekitar 35.000 pada tahun 1947, mencapai 96.000 pada Desember 1948. Disisi lain, pasukan Arab yang akan diterjunkan di dalam perang Arab-Israel nanti jumlahnya pada tahun 1947 hanya sekitar 25.000 saja dan pertambahan mereka tidak sesignifikan rival Yahudinya.

Selain jumlah yang lebih besar, tentara Israel juga telah memiliki pengalaman tempur yang lebih baik. Pengalaman dari sebagian mereka terlibat dalam pasukan sekutu dalam Perang Dunia II di Eropa. Pengalaman tempur itu akan sangat berharga karena tentara Arab hampir semuanya belum memiliki pengalaman yang tempur sama.

Hal lainnya bahwa seluruh orang Yahudi yang migrasi ke tanah Palestina memiliki senjata api. Senjata api dan persenjataan yang lebih canggih pada masanya, seperti altileri, pesawat tempur, dan amunisi yang merupakan suplai dari Cekoslowakia. Di negara-negara Arab, karena pembatasan senjata yang diberlakukan oleh penjajah membuat tidak siapnya persenjataan yang memadai untuk peperangan modern.

Sebelumnya Newton (2017): Bertahan dengan Kejujuran
Selanjutnya Kata Keseimbangan dalam UU tentang Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum

Belum ada komentar

Tinggalkan pesan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *