Penyiar Radio, Bukan untuk Mencari Materi


“Penyiar yang baik akan selalu menyebut pendengar dengan KAMU bukan KALIAN. KAMU yang berarti penyiar ini seakan-akan hanya sedang berbicara dengan Anda”.

Hai, Pilajars!

Cerita profesi kali ini mengangkat kisah tentang Pamula Mita Andary yang akrab disapa Mita. Perempuan yang telah menyelesaikan studinya di Fakultas Kehutanan ini justru senang dengan hal yang bertentangan dengan disiplin ilmunya, contohnya media. Sekarang Mita pun sedang mencoba menjalankan bisnis di bidang jasa. Sejak menyelesaikan pendidikan di bangku SMA tahun 2012, dia menjalani profesi sebagai penyiar radio yang disenanginya hingga saat ini.

Mita percaya bahwa berbagai bidang ilmu itu saling berhubungan satu sama lain walaupun ada bidang ilmu tertentu yang lebih menarik minat orang-orang, seperti kedokteran, teknik, atau hukum. Di jurusan Kehutanan, Mita mengambil minat Kebijakan dan Kewirausahaan Kehutanan. Peran media sangat membantu dalam pendokumentasian mengenai isu-isu terkini terkait kehutanan termasuk kebijakan-kebijakan kehutanan. Berikut cerita perjalanan Mita menjalani profesi sebagai penyiar radio.

Ketertarikan dengan media banyak dipengaruhi oleh papa saya yang bergelut di dunia media, mulai dari radio, televisi dan jurnalistik (koran/majalah). Secara teori, saya tidak begitu banyak mengetahui terkait media, khususnya dunia penyiaran radio yang sudah 6 tahun saya jalani. Saya lebih banyak belajar otodidak dan menyerap ilmunya dengan cara mendengar radio sesering mungkin atau juga melalui pelatihan.

Kata orang tua saya, saat saya masih kecil saya itu senang berkaca sambil berbicara sendiri seolah-olah memandu acara. Ketika beranjak Sekolah Dasar, saya sering mendengarkan Prambors Makassar (105.1 fm) atau Madama Radio (87.7 fm). Saya sangat senang mendengarkan penyiar karena terdengar cerdas. Mereka bisa berbicara dengan lancar dan jelas, terdengar gaul karena banyak mengetahui lagu-lagu terkini dan yang pasti memiliki banyak fans. Aha! moment pun terjadi ketika saya diundang sebagai salah satu pembicara mewakili sekolah saya di radio Prambors. Saat itu saya merasa seperti semakin tertantang untuk mencoba dunia  penyiaran radio.

Hal Menyenangkan sebagai Penyiar Radio

Terlihat sepertinya radio mulai luput dari perhatian masyarakat, tapi sesungguhnya kalau ditelusuri di berbagai situs survei, pendengar radio justru meningkat dikarenakan fitur streaming yang kini sudah tersedia di berbagai radio nasional maupun lokal. Ada penelitian dari The Media and the Mood of the Nation yang menyatakan orang yang mendengarkan radio itu akan lebih bahagia dibanding hanya terpaku pada komputer atau menonton TV. Radio membuat penyebaran informasi yang lebih cepat. Lagu-lagu masa kini juga dapat didengarkan lebih cepat melalui radio. Tidak bisa memungkiri banyak aplikasi streaming lagu saat ini, tapi mendengarkan lagu di radio memiliki sensasi tersendiri. Lagu-lagu yang diputar di radio terkadang unpredictable. Jika seorang penyiar merapikan playlist-nya dengan apik, perpindahan antar lagu yang satu dengan lagu yang lain akan terdengar sangat indah karena ada pengaturan beat di dalamnya.

Sebagai penyiar radio, sampai sekarang pun status saya masih sebagai pendengar. Saya mendengarkan radio lebih sering dibanding menonton TV. Kita bisa mendengarkan radio sembari melakukan aktivitas lain. Saya merasa radio itu memiliki kekuatan emosional yang lebih dibandingkan TV karena penyiar yang baik akan selalu menyebut pendengar dengan KAMU bukan KALIAN. KAMU yang berarti penyiar ini seakan-akan hanya sedang berbicara dengan Anda.

Perjalanan menjadi Penyiar Radio

Setelah lulus SMA sambil menunggu perkuliahan, saya mulai mendaftar di radio Prambors bulan Mei 2012. Tidak lama berselang ada panggilan interview. Bagi saya cukup menegangkan karena menjadi peserta termuda yang harus berhadapan dengan intervewer yang juga penyiar handal Prambors (Kak Irfan Intje, Kak Mawar dan Kak Clay). Akhirnya saya diterima. Namun, januari 2013 saya memutuskan keluar dari Prambors untuk fokus kuliah. Berselang setahun, tepatnya maret 2014 saya kembali mencoba peruntungan di dunia radio dengan mendaftar di radio Madama. Alhamdulillah, hingga saat ini masih menjadi keluarga besar Radio Madama.

Satu hal yang paling mengesankan, saat baru 1 bulan bekerja di radio Madama, saya langsung dipercayakan untuk memegang satu program di prime time, yaitu di sore hari. Siaran tersebut opening pukul 3 sore dan berakhir pukul 6 petang, tapi kenyataannya saya closing lewat 2 menit karena manajemen waktu saya yang masih kurang baik saat itu. Akhirnya salah satu senior marah dan membantingkan pintu studio yang membuat saya menangis, meskipun saat mic on saya harus tetap terdengar ceria. Kelebihan waktu adalah kesalahan yang cukup fatal di radio.

Pengalaman sebagai Penyiar Radio

Pengalaman yang saya rasakan sebagai penyiar radio bukan sekadar berbicara di depan mic, tapi juga melakukan banyak persiapan. Saya terbiasa mengurus kebutuhan siaran sendiri, mulai dari pemilihan playlist, informasi, format lagu, insertion, spot, handle sosial media dan juga meladeni pendengar yang mau request lagu. Intinya menyiar radio apalagi kalau single DJ (announcer) itu layaknya sedang berkendara mobil manual, harus memperhatikan banyak hal. Untuk menjadi penyiar radio tentunya harus jadi  pendengar radio terlebih dahulu dan terbuka dengan hal-hal baru.

Sesungguhnya menjadi penyiar radio itu gampang-gampang susah. Penyiar yang terlahir dengan golden voice (seperi Sarah Sechan, Melanie Ricardo, Indra Bekti dan Farhan) tidak membutuhkan usaha lebih dalam menyiar, tinggal mencari berita yang ingin disampaikan, mendaur ulang berita tersebut dengan bahasa sendiri, membaca adlips (berita baca), memutarkan spot (iklan). Lain halnya dengan penyiar yang memiliki suara biasa saja. Agar terdengar menarik di radio, disarankan untuk banyak-banyak hummingHumming ini bertujuan untuk membuat suara terdengar berat. Selain itu, perlu sering-sering latihan pernapasan ringan agar tidak lelah saat harus bercuap-cuap selama 3 jam. Layaknya penyanyi, seorang penyiar disarankan untuk berbicara menggunakan suara perut. Yang paling penting, penyiar sekarang tidak perlu berbicara terlalu banyak. Maksimal waktu berbicara kurang lebih 5 menit untuk tandem dan 2 menit untuk single DJ.

Radio sebagai Tempat Menyalurkan Kesenangan

Saya pribadi menjadikan radio sebagai tempat menyalurkan kesenangan saya terhadap dunia media dan bekal memasuki dunia-dunia lain. Pengalaman menjadi penyiar radio membuat saya lumayan diperhitungkan jika mendaftar suatu kegiatan atau melamar pekerjaan. Menjadi penyiar radio sangat berjasa dalam membantu saya membangun percaya diri.

Bertahan sebagai penyiar radio, hal yang harus disiapkan adalah mental dan mindset bahwa radio bukanlah tempat untuk mencari uang yang banyak. Dengan bergelut di dunia radio akan membuka kesempatan untuk memperoleh uang yang banyak di tempat lain (contohnya : MC, News Anchor, dsb).

Ada satu hal menarik, KPID DKI Jakarta bertepatan di hari Radio Nasional yang jatuh pada 11 Desember membuat sebuah gimmick yang sangat cerdas dengan serentak mematikan pemancar seluruh radio di Jakarta beberapa menit untuk melihat bagaimana reaksi masyarakat tanpa radio. Saya rasa pemerintah dan semua pihak yang concern dengan isu radio memang perlu membuat masyarakat kembali menyadari pentingnya mendengarkan radio dengan cara sederhana, seperti membuat program yang tidak hanya bersifat entertain. Namun, edukatif dan informatif yang kemudian dikemas secara menarik dengan tidak melupakan hal-hal kekinian yang selalu saja berubah-ubah tiap waktunya.

Kalau ingin mengobrol dengan Mita, kamu bisa mengunjungi instagramnya mitandary dan blog pribadinya di theatreofmine.tumblr.com.

Sebelumnya Menilai Buku dari Sampulnya ala Goodreads Surabaya
Selanjutnya Gaya Bertani Zaman Now

Belum ada komentar

Tinggalkan pesan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *