Ruangbaca: Kampanyekan Perpustakaan dan Literasi melalui Musik


Dewasa ini, perpustakaan seolah menjadi sesuatu yang jauh dari kegemaran anak muda, mungkin jika dibandingkan keramaian tempat lain seperti mall ataupun kafe, maka melihat perpustakaan akan seramai tempat-tempat tersebut bagaikan punuk merindukan bulan. Tentunya bukan perkara mudah untuk menumbuhkan semangat orang berkunjung ke perpustakaan. Dalam hal literasi, perlu ada daya tarik dari sekadar membaca buku atau menulis status di media sosial.

Ruangbaca sebagai salah satu grup musik yang aktif mengampanyekan perpustakaan dan literasi melalui musik menganggap bahwa perpustakaan bukan melulu tentang buku, itu bisa lebih luas lagi: tentang manusia. Mereka senang membuat musikalisasi puisi atau interpretasi tulisan untuk menumbuhkan semangat orang terhadap literasi. Bagaimana mereka berjuang untuk memperkenalkan perpustakaan dan literasi sebagai suatu kesenangan, simak obrolan menyenangkan bersama ruangbaca.

Selamat malam ruangbaca, boleh perkenalan dulu.

Ruangbaca adalah Ale yang main gitar sambil bernyanyi dan Viny yang juga bernyanyi.

Ruangbaca ini disebutnya apa ya? Tim, Duo atau grup?

Bisa disebut duo, tim, grup, bisa juga pasangan. Hehehe

Kenapa memilih nama ruangbaca?

Karena cikal bakal kami terbentuk itu di ruang baca. Akhirnya mengambil kata ruangbaca untuk membuat musik sebagai ruang untuk membaca diri satu sama lain.

Setahun terakhir khususnya di Kota Makassar, ruangbaca hadir sebagai salah satu grup musik yang banyak digemari oleh pencinta musik indie. Apa genre musik yang diusung oleh ruangbaca?

Genre ruangbaca itu kadang folk kadang pop. Kami menyebutnya “pop/folk”.

Apa yang menjadi pembeda musik ruangbaca dibanding yang lain?

Apa ya? Hmmm, pada dasarnya kita semua berbeda.

Kami senang membuat musikalisasi puisi atau interpretasi tulisan yang kami senangi. Ruangbaca punya semangat untuk mengampanyekan perpustakaan melalui lagu. Menurut kami, perpustakaan bukan melulu tentang buku, itu bisa lebih luas lagi: tentang manusia.

Kapan ruangbaca dibentuk dan atas inisiasi siapa?

Ruangbaca terbentuk di awal tahun 2015. Saat itu ruang baca adalah proyek iseng yang diinisiasi oleh kami berdua. Awalnya hanya gitar-gitaran di perpustakaan kata kerja, akhirnya bersama katekerja, kami serius untuk membuat proyek musik ruangbaca sebagai kampanye perpustakaan dan literasi.

Latar belakang terbentuknya ruangbaca?

Karena projekan ini tidak sengaja terbentuk, maka bisa dibilang latar belakang terbentuknya adalah karena kami sering bersama-sama di perpustakaan katakerja.

Apakah ada misi tertentu dari ruangbaca?

Terkait misi, sepertinya harus turunan dari visi yah? Akan kami beri tahu jika kami sudah menentukan visi hehehe.

Di mana pertama kali ruangbaca manggung dan pengalaman manggung yang paling berkesan di mana?

Kami mendapatkan panggung perdana di tanggal 15 Maret 2015. Saat itu teman kami, Kak Nita (pengelola Kedai Buku Jenny) senang mendengarkan demo kami di Soundcloud, akhirnya ia mengajak kami berpartisipasi di acara Hutan Bernyanyi di Bantaeng. Acara ini sekaligus menjadi panggung paling berkesan, karena apa lagi yang paling mengesankan selain kesempatan.

Apa tantangan yang dihadapi ruangbaca sejak berdiri hingga sekarang?

Tantangan yang dihadapi banyak mulai dari menantang diri sendiri untuk membuat karya hingga tantangan teknis di panggung.

Bagaimana Viny dan Ale mengatur jadwal masing-masing supaya tidak berbenturan dengan aktivitas ruangbaca?

Selalu ada benturan aktivitas dan selalu ada aktivitas yang dikorbankan. Sejauh ini, kami senang dengan apa yang kami pilih.

Bagaimana ruangbaca melihat dunia literasi saat ini?

Dengan adanya media sosial, orang-orang lebih dekat dengan baca tulis. Tapi menurut kami, literasi bukan lagi sekadar baca-tulis. Lebih dari itu, literasi berbicara tentang ‘memberi ruang’ setelah membaca atau sebelum menulis sesuatu. Media sosial membuat kita terlalu cepat atau terburu-buru merespon sesuatu.

Di sisi lain, ruang-ruang baca semakin tumbuh di mana-mana. Pasti masing-masing ruang baca tersebut punya kontribusi besar terhadap cara berpikir kita semua.

Menurut ruangbaca, apa yang menjadi penyebab minimnya minat orang terhadap puisi dan literasi?

Mungkin puisi sudah sangat dilekatkan dengan hal yang mendayu-dayu atau cinta melulu. Padahal banyak sekali puisi yang membicarakan permasalahan sosial masyarakat atau bahkan menjadi cerminan realita.

Bagaimana ruangbaca melihat pengaruh musikalisasi puisi dalam meningkatkan minat orang terhadap puisi?

Di tahun 2000-an, banyak anak muda yang tiba-tiba menyukai puisi setelah menonton film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) dan melihat betapa Rangga memukau dengan puisinya, atau Cinta yang tampil anggun dengan musikalisasi puisinya. Kami pikir, jika satu karya dikembangkan menjadi karya lainnya, maka karya-karya tersebut akan saling menjembatani bagi penikmat masing-masing, untuk menengok atau bahkan menyeberang dan menikmati karya lainnya.

Saran dari ruangbaca bagi mereka yang memiliki keinginan berkarya melalui musik seperti ruangbaca agar bisa survive?

Mari “sama-sama” belajar.

Apa rekomendasi buku, film, dan musik untuk Pilajars?

Viny sedang terkesima dengan buku Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi. Untuk film, Saleh menyukai science-fiction, sedangkan musik, kami menyukai mendengar apa saja.

Terakhir, apakah ada pesan untuk Pilajars?

Ayo ke perpustakaan.

 

Jika ingin menikmati musik dari ruangbaca bisa berkunjung ke https://soundcloud.com/ruangbaca atau instagram @ruangbaca_
Silahkan mengenal lebih dekat personelnya di instagram @salehhariwibowo @vinyshing

 

Sumber Gambar: Dokumentasi pribadi ruangbaca.

Sebelumnya Lepas Suntuk, Pakar Perancang Liburan Menyenangkan
Selanjutnya Folk Music Festival 2017 Kembali Hadir di Malang

Belum ada komentar

Tinggalkan pesan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *