Newton (2017): Bertahan dengan Kejujuran


Perubahan besar tidak datang dalam sehari. Bahkan hutan membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk tumbuh.”

Sejak tahun 1952, tingkat partisipasi dalam pemilu di India berkisar 55 hingga 63 persen. Banyak pengamat di India berkomentar, jumlah itu sebenarnya dapat ditingkatkan jika 30 persen warga yang buta huruf mendapat kesempatan untuk belajar membaca. Persoalan konflik dan pemberontakkan juga menjadi bagian dari cerita pemilu di India salah satunya pengikut Maois (Komunis India). Dalam konteks demokrasi dan pemilihan umum, film Newton menjadi salah satu referensi yang wajib ditonton oleh para penyelenggara negara.

Newton merupakan film Satir India 2017 yang disutradarai oleh Amit V Masurkar, diputar perdana di Berlin International film festival. Film ini terpilih sebagai entri untuk India menjadi film Asing terbaik di Academy Awards 90th.

Newton Kumar (Rajkummar Rao) pemeran utama film ini merupakan seorang pegawai pemerintah kelas menengah yang cerdas, jujur, dan tepat waktu. Namanya sebenarnya Nutan yang berarti baru, karena sering menjadi bahan tertawaan teman disekolah, Nutan Kumar mengganti namanya sendiri menjadi Newton Kumar. Newton ditugaskan sebagai tim cadangan untuk melakukan pemungutan suara yang adil dan tidak memihak di daerah yang dilanda konflik.

Newton ditugaskan sebagai ketua panitia dengan tiga orang rekan yang membantunya yaitu Malko (Anjali Patil), Loknath (Raghubhir Yadav), Shambhu (Mukesh Prajapati) untuk mendapatkan voting suara dari 76 orang. Desa tersebut merupakan desa terpencil yang jauh dari jangkauan pembangunan dan menjadi wilayah pemberontakan oleh kaum Maois. Pasukan militer di wilayah tersebut dibawah pimpinan Aatma Singh (Pankaj Tripathi) bertugas untuk mengawal perjalanan Newton dan tiga rekannya ke desa tersebut dengan memakai baju anti peluru lengkap.

                                         Sumber Gambar: Google

Sesampainya di lokasi sekolah untuk memasang tempat pemungutan suara, Newton merasa bahwa bangunan-bangunan di wilayah tersebut sengaja dihancurkan. Pikirnya bukan hanya pemberontakan tapi juga pemerintah yang memperlakukan daerah konflik dengan tidak adil dan penuh dengan pelanggaran HAM.

Beberapa jam kemudian belum ada satupun warga yang datang memilih. Newton mendatangi Aatma Singh agar tim nya dapat membawa warga memilih ke tempat tersebut dengan selamat. Dialog yang cukup menarik terjadi antara keduanya karena Aatma Singh tidak mau melakukannya, dia menawarkan timnya saja yang menggantikan. Katanya politikus di daftar pemilihan itupun tidak ada yang pernah berkunjung dan warga desa juga tak mengenal satupun dari mereka.

                          Sumber Gambar: Swapnil S. Sonawane.

Alurnya menjadi menarik ketika salah satu pemimpin tertinggi kepolisian India mengatakan bahwa nama besarnya menjadi taruhan akan keberhasilan melaksanakan pemungutan suara di daerah tersebut. Katanya akan ada media yang meliput, sehingga warga desapun dipaksa oleh aparat untuk segera menggunakan hak suaranya. Pada akhirnya kita diperlihatkan sosok Newton yang teguh pada tugas dan prinsipnya untuk melaksanakan pemilihan sampai waktu yang ditentukan tanpa harus memberikan paksaan kepada warga dan Aatma Singh yang apatis dan cenderung realistis dengan kondisi masyarakat disana untuk mengikuti pemilihan umum. Idealis memang kenikmatan yang hanya dimiliki sedikit sekali orang.

Sebelumnya Keindahan Air Terjun Ere A'lulua di Tanah Bulukumba
Selanjutnya Perimbangan Kekuatan Arab dan Israel pada Perang Arab-Israel Pertama

Belum ada komentar

Tinggalkan pesan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *