Munir Fest; Refleksi atas Penegakan HAM di Indonesia


Sejak era reformasi, sudah ada lima presiden yang memimpin Indonesia. Namun, persoalan Hak Asasi Manusia (HAM) belum menemui titik terang, terlebih kasus-kasus yang terjadi pada para pejuang HAM di Indonesia. Kasus pembunuhan Munir yang terjadi di era pemerintahan presiden Megawati hingga saat ini masih menjadi tanda tanya besar, khususnya bagi para pegiat HAM. Sebagai reaksi terhadap kasus Munir yang belum menemui titik terang, Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Hukum, Komisariat Ekonomi, dan Komisariat ISIPOL Universitas Hasanuddin Cabang Makassar Timur menggelar Munir Fest (29/9). Rangkaian kegiatannya terdiri atas diskusi publik, pemutaran film dokumenter, panggung ekspresi, dan lapak buku di Taman Ekonomi Unhas.

Salah satu sesi kegiatan yang cukup mendapat antusias mahasiswa adalah diskusi publik. Diskusi tersebut mengangkat tema Penegakan HAM: Setengah Mati atau Setengah Hati. Dalam sesi diskusi ini perjalanan penegakan HAM di Indonesia dipaparkan oleh Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar dan dosen UIN Alauddin Makassar, Muhammad Ridha.

Firmansyah dari LBH mengatakan untuk kasus Munir diduga ada pihak-pihak yang sengaja menutup-nutupi dokumen kasus tersebut supaya lenyap.                                                                                                                                             “Ada banyak keganjilan pada penegakan HAM di Indonesia, seperti kasus munir. Dokumen kasus dari Tim Pencari Fakta sengaja dilenyapkan atau tidak digubris oleh pihak-pihak lain,” ungkap aktivis LBH Makassar itu. Namun, dia tidak mengungkapkan siapa pihak yang diduga melenyapkan dokumen tersebut.

Dosen UIN Alauddin Makassar, Muhammad Ridha, menjelaskan konsep dasar Hak Asasi Manusia. Menurutnya, untuk persoalan HAM tak ada yang dapat mengurangi atau mengambil hak asasi seseorang.                                              “Hak itu melekat pada diri seseorang dan merupakan karunia Tuhan atas hadirnya di muka bumi. HAM pada mulanya mulai diakui  secara historis sejak perang dunia pertama dan kedua,” tuturnya.

Ditemui di sela diskusi, Sutami dari Komisariat Ekonomi mengungkapkan diskusi tersebut dilaksanakan tidak hanya untuk mengenang tragedi pembunuhan aktivis HAM, Munir Said Talib. Kegiatan ini juga sebagai refleksi atas penegakan HAM di Indonesia.                                                                                                                                                              “Tiga Komisariat HMI sepakat menggelar Munir Fest ini sebagai upaya mengingat kembali terhadap kasus-kasus HAM di Indonesia terutama kasus Munir”, ungkap mahasiswa Fakultas Ekonomi Unhas itu.

Munir Fest berakhir setelah diskusi publik dan beberapa penampilan puisi dan musik dari mahasiswa. Kegiatan tersebut direncanakan akan diadakan tiap tahun dan akan lebih banyak melibatkan komisariat yang ada di Unhas.     “Kegiatan ini bukan seremonial saja, tetapi upaya menciptakan konstruksi paradigma mahasiswa bahwa kasus Munir dan penegakan HAM di Indonesia harus diperhatikan. Kami kedepannya akan menggelar kegiatan yang sama dengan melibatkan komisariat yang lebih banyak”,  tutur Muhammad Soleh, Ketua Umum HMI Komisariat Hukum Unhas saat ditemui pada akhir acara.

Sebelumnya Menangkap Jiwa-jiwa yang Lepas
Selanjutnya Kebijakan Impor Garam, Sebuah Kegentingan atau Kepentingan?

Belum ada komentar

Tinggalkan pesan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *