Menyusuri Pasar Terapung Khas Suku Banjar


Banjarmasin yang merupakan Ibu Kota Provinsi Kalimantan Selatan menyimpan satu kenangan bagi para penikmat stasiun TV RCTI di era 90-an. Orang akan selalu mengingat tayangan yang selalu diputar sebelum memulai suatu acara yaitu Potret kehidupan pasar terapung yang tak lain berada di Banjarmasin, lebih tepatnya Pasar Terapung Muara (Sungai) Kuin atau Pasar Terapung Sungai Barito yang merupakan pasar terapung tradisional yang berada di atas sungai Barito di muara sungai Kuin. Sejarah Pasar Terapung Muara Kuin ini dimulai pada tahun 1526 dimana Sultan Suriansyah mendirikan istana Kerajaan Banjar dalam kawasan Bandar Masih di sekitar tepi Sungai Kuin, yang kelak menjadi cikal bakal dari kota Banjarmasin. Sejak saat itulah tepian sungai ini mulai ramai dikunjungi dan melahirkan sebuah pasar tradisional unik yaitu Pasar Terapung.

Aktivitas pasar dimulai pukul 05.30 pagi hingga pukul 09.00 pagi. Menuju Pasar Terapung membutuhkan waktu selama 20 menit dengan menggunakan perahu yang sering disebut klotok oleh warga setempat. Keberangkatan klotok dimulai dari dermaga yang berada di depan Masjid Sultan Suriansyah. Terdapat beberapa dermaga yang bisa digunakan untuk melakukan perjalanan air ke Pasar Terapung Muara Kuin, kita bias melalui dermaga Siring yang berada di titik 0 Kilometer Kota Banjarmasin atau juga sekitar 100 Meter sebelum dermaga masjid Suriansyah.

Sebagai seorang pendatang di tanah Borneo, melihat secara langsung aktivitas Pasar Terapung tentunya sangat menarik. Saya tinggal dan bekerja di daerah Kandangan Hulu Sungai Selatan yang berjarak 150 km dari Kota Banjarmasin. Mengagendakan untuk berlibur ke Pasar Terapung Muara Kuin di akhir pekan merupakan kegiatan penting yang harus saya lakukan. Pada hari sabtu saya memulai perjalanan dan saya memutuskan untuk menginap di Kota Banjarmasin sebelum esok hari menuju Pasar Terapung. Keesokan harinya, sekitar pukul 04.30 saya berangkat menuju dermaga Masjid Sultan Suriansyah dan menyempatkan sholat subuh di masjid tertua di Kalimantan Selatan.

Masjid Sultan Suriansyah dibangun pada masa pemerintahan Sultan Suriansyah (1526-1550), Raja Banjar pertama yang memeluk agama Islam. Masjid Sultan Suriansyah merupakan salah satu dari tiga masjid tertua yang ada di Kota Banjarmasin pada masa Mufti Jamaluddin (Mufti Banjarmasin), selain Masjid Sultan Suriansya terdapat Masjid Besar (cikal bakal Masjid Jami Banjarmasin) dan Masjid Basirih. Masjid ini terletak di Kelurahan Kuin Utara, kawasan yang dikenal sebagai Banjar Lama merupakan situs ibu kota Kesultanan Banjar yang pertama kali. Masjid Sultan Suriansyah letaknya berdekatan dengan komplek makam Sultan Suriansyah dan di tepian kiri sungai Kuin.

Masjid yang didirikan di tepi sungai Kuin ini memiliki bentuk arsitektur tradisional Banjar, dengan konstruksi panggung dan beratap tumpang. Pada bagian mihrab masjid ini memiliki atap sendiri yang terpisah dengan bangunan induk.

Usai menunaikan sholat Subuh, saya menuju dermaga untuk menyewa klotok. Saat berada di tepi dermaga, pengunjung pasti akan disambut oleh beberapa warga lokal yang biasa disebut dengan panggilan Paman. Paman akan menawarkan klotok kepada pengunjung dengan biaya 250 ribu rupiah. Pengunjung akan mendapatkan rute perjalanan dari dermaga menuju Pasar Terapung Kuin kemudian menuju wisata Pulau Kembang atau akrab disebut dengan Pulau Monyet. Selama dalam perjalanan saya menikmati pemandangan aliran Sungai Barito dan rumah-rumah penduduk lokal yang berdiri kokoh di tepi sungan. Rumah penduduk merupakan rumah tradisional yang menggunakan kayu ulin sebagai pondasi. Kayu ulin dipilih sebagai pondasi karena kayu ulin akan semakin kuat jika terkena air. Dalam perjalanan menggunakan klotok kita akan menyaksikan matahari terbit dan juga akan melihat lalu lintas perahu yang menarik kapal tongkang batu bara.

Setelah menempuh perjalanan selama 20 menit, aktivitas para pedagang di Pasar Terapung Muara Kuin mulai terlihat. Para pedagang berjualan menggunakan perahu tradisional yang sering disebut dengan jukung. Terdapat buah-buahan, sayur-sayuran, gorengan, kopi, teh, replika perahu hingga soto banjar yang ditawarkan para pedagang.

Pada jaman dahulu, transaksi jual beli yang berlaku di pasar terapung ini adalah sistem barter antar pedagang diatas perahu. Sistem yang dalam bahasa Banjar disebut  “Bapanduk” ini adalah salah satu keistimewaan yang unik dan langka. Seiring berjalannya waktu Pasar terapung ini  menjadi tempat wisata yang ramai didatangi wisatawan dari luar Banjar yang datang untuk sekedar menyaksikan keunikan tradisi yang masih tetap bertahan ini dan tak jarang mereka yang datangpun juga membeli aneka barang dan jajanan yang dijajakan karena transaksi jual beli sudah menggunakan uang tunai.

Selain Pasar Terapung, wisatawan dapat melihat aktivitas keseharian warga sekitar seperti mencuci pakaian, mandi dan beberapa aktivitas lainnya dipinggir sungai. Zaman yang semakin berkembang tentunya memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap keberlangsungan aktivitas pasar terapung. Jumlah pedagang yang tak lagi seramai dahulu, perlahan mengikis keberlangsungan Pasar terapung ini. Akses transportasi darat yang semakin berkembang menjadi salah satu penyebab. Kondisi alam Banjar yang dikenal sebagai negeri beribu sungai memiliki prasarana transportasi sungai. Sehingga barang dagangan berupa hasil bumi dan kebun yang dibawa penduduk dari arah hulu sangat mudah dibawa dengan menggunakan perahu.

Oleh karena itu dibuatlah wisata pasar terapung siring Banjarmasin yang berada di pusat kota Banjarmasin atau dititik 0 kilometer Banjarmasin yang setiap minggunya menjadi lokasi Car Free Day. Kawasan ini juga sebagai salah satu destinasi wisata untuk masyarakat banjar dan wisatawan yang ingin tetap menikmati eksistensi Pasar terapung ditengah hadirnya pilihan pasar-pasar modern di daratan. Para pedagang wanita (dukuh) dengan jukungnya didatangkan ke Pasar terapung Siring. Jarak yang cukup jauh membuat para pedagang diantar dan dijemput dengan cara mereka duduk diatas jukungnya sambil berpegangan dipinggir perahu (klotok) mesin yang jalan.

Setelah puas menikmati Pasar Terapung Kuin, saya melanjutkan perjalanan menuju Pulau Kembang yang berada di wilayah Kecamatan Alalak Kabupaten Barito Kuala.

Perjalanan menggunakan klotok dari Muara Kuin menuju Pulau Kembang membutuhkan waktu 20-30 menit. Pulau yang terletak di tengah Sungai Barito ini merupakan delta yang terbentuk secara alami. Pulau Kembang merupakan hutan wisata yang berada dikawasan konservasi di bawah pemangkuan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Selatan seluas 60 Ha. Pulau Kembang ini tidak dihuni manusia namun didominasi oleh fauna seperti kera ekor panjang dan bekantan.

Pulau Kembang di sebut sebagai kerajaan kera karena terdapat ratusan bahkan ribuan kera. Mitos warga setempat terdapat kera yang sangat besar yang di sebut raja dari para kera. Namun tidak hanya kera, kalau sedang beruntung kita  bisa bertemu dengan Bekantan. Bekantan merupakan jenis kera berekorpanjang yang mempunyai hidung yang mancung dengan warna kekuningan yang merupakan hewan khas pulau Kalimantan.

Tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam untuk dapat memasuki Pulau Kembang, cukup 7.500 per orang. Ketika sampai di dermaga, pengunjung akan langsung disambut dengan monyet. Monyet-monyet tersebut akan langsung menghampiri jika pengunjung membawa beberapa makanan seperti pisang, kacang, rambutan maupun makanan lainnya. Kemudian pengunjung akan diajak mengelilingi Pulau Kembang menyusuri jalan beton di dalam Hutan Mangrove sekitar 30 menit dengan dipandu oleh guide lokal. Dalam perjalanan, pengunjung pasti akan menjumpai puluhan monyet yang menanti pemberian makanan dari pengunjung. Tidak jarang, beberapa monyet bertindak agresif hingga menaiki pundak pengunjung.

Hal yang cukup unik, ternyata di kalangan monyet juga menetepkan zona mereka di pulau tersebut. Menurut informasi dari guide dan saya menyaksikan sendiri ketika salah satu monyet melintasi wilayah lain dan diberi makan oleh pengunjung di tempat yang bukan wilayahnya. Monyet pemilik wilayah tersebut akan berbondong-bondong menghampiri dan merebut makanan tersebut.

Sedikit catatan bagi yang ingin berkunjung ke tempat ini, jika membawa kacamata lebih baik disimpan. Kacamata kemungkinan monyet akan mengambil dan membawa kedalam hutan. Jangan memukul monyet yang menyentuh tubuh, karena akan menyebabkan kelompok monyet lain marah dan menyerang. Terakhir, jangan lupa memberi tip kepada guide, karena tidak ada tarif tetap untuk guide.

Setelah pulang dari pulau kembang dan kembali ke dermaga, saya kembali ke Kota Banjarmasin. Memutuskan singgah berkunjung ke kawasan wisata pasar terapung Siring Banjarmasin. Di lokasi kawasan Siring, kita menyaksikan aktivitas pasar terapung dengan sesaknya pengunjung Car Free day yang juga memadati kawasan tersebut. Pasar terapung bukan lagi sekedar pasar tempat pedagang berperahu saling barter dagangan di atas jukung. Tetapi, lebih dari itu pasar terapung telah menjadi ikon dan tradisi. Sesuatu yang harus terus dijaga di negeri seribu sungai. Jangan sampai hadir hanya sebagai tujuan wisata tapi sebagai pengingat akan tradisi para leluhur.

Sebelumnya Entrok: Membaca Kisah Marni dan Rahayu
Selanjutnya Potret Perempuan dan Pasar Terapung

Belum ada komentar

Tinggalkan pesan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *