Menilai Buku dari Sampulnya ala Goodreads Surabaya


Mungkin bagi para pencinta buku, Goodreads merupakan situs yang tak asing lagi. Situs katalogisasi buku ini tercatat memiliki lebih dari 10 juta pengguna di seluruh dunia. Komunitas Goodreads di Indonesia juga termasuk besar, salah satu komunitasnya yang aktif adalah komunitas Goodreads Surabaya. Setelah sukses mengadakan berbagai acara berkaitan dengan buku yang narasumbernya penulis-penulis berbakat, Goodreads Surabaya kembali menyelenggarakan acara serupa yang digelar pada Sabtu, 23 Desember 2017.

Nah, kalau biasanya kita sering mendengar istilah jangan menilai buku dari sampulnya, kali ini acara Goodreads Surabaya berkebalikan dengan istilah tersebut. Acara yang bertajuk Menilai Buku dari Sampulnya ini bertempat di Tanak Melayu Surabaya, menghadirkan dua penggagas Suku Tangan, yaitu Putu Genta Shimaoka dan Sekar Wulandari Yogaster. Suku Tangan merupakan salah satu desainer yang bergerak di bidang desain sampul buku. Sekitar pukul 15.30 acara dimulai dengan perkenalan dua pembicara. Kemudian dilanjutkan dengan latar belakang mereka terjun di dunia sampul buku dan pemaparan mengenai seluk- beluk pembuatan sampul buku.

Berawal dari Sekar yang memutuskan berkolaborasi dengan sang pacar, Genta, untuk membuat proyek yang melibatkan kesukaan mereka berdua. Sekar yang hobi membaca dan Genta yang seorang desaigner akhirnya memutuskan membuat sebuah proyek desain sampul buku. Hingga akhirnya mereka memutuskan bernaung di bawah bendera Suku Tangan. Sebelumnya Suku Tangan merupakan akun katarsis Genta yang gemar mengasah kemampuannya membuat ilustrasi tangan melalui akun instagram sukutangan. Perjuangan awal merintis Suku Tangan tidaklah mudah. Mereka rutin mengirimkan sampel hasil desain mereka ke beberapa penerbit hingga ke penulis-penulis buku. Perjuangan itu membuahkan hasil. Lambat laun job berdatangan dari berbagai penerbit. Sampai saat ini, keduanya masih aktif mendesain sampul buku untuk beberapa buku. Sebut saja desain yang pernah mereka kerjakan, Fasisme Kevin Passmore, Kain Jose Saramago, Tom Sawyer, Mark Twain dan masih banyak lagi.

Mekanisme pembuatan sampul buku juga dibahas secara detail. Mulai dari bagaimana ilustrator berusaha mengambil inti dari buku yang akan dituangkan menjadi ilustrasi, proses pembuatan sampul dan revisi sampai dengan pemilihan final sampul buku yang diberikan ke penerbit. Tak ketinggalan hal-hal lain yang melingkupi proses pembuatan sampul buku. Dari cara mengembalikan mood ketika ide mentok, hingga tips menghadapi penerbit yang rewel.

Tidak hanya mendapat gambaran menarik seputar dunia sampul buku, di acara ini peserta juga mendapat pembatas buku menarik langsung dari Suku Tangan. Sesi acara berlanjut dari pemaparan menuju ke tanya jawab antara peserta dan pengisi acara. Peserta silih berganti mengajukan pertanyaan. Sebut saja proyek yang paling berkesan, ilustrator buku favorit bahkan kondisi persaingan di industri desain sampul buku.

Dari pemaparan dan jawaban atas pertanyaan yang diajukan peserta, pemahaman tentang desain sampul buku menjadi bertambah. Dari acara ini pula, peserta menjadi tahu bahwa dibalik keseruannya dunia desain sampul buku juga memiliki kendala tersendiri. Misalnya, ketika Suku Tangan dihadapkan dengan penerbit yang memaksakan untuk membuat desain sampul sesuai desain yang sedang populer padahal tidak sesuai dengan isi buku pun dengan gaya pembuat desain yang tentu membuat ilustrasi menjadi terkesan dipaksakan atau kendala-kendala lainnya yang mengharuskan mereka untuk tetap kreatif dan aktif menyiasatinya.

Acara  diakhiri dengan pembagian doorprize berupa buku untuk penanya terpilih. Ah, menarik bukan ketika kita diajak untuk menyelami buku lewat sampulnya. Kita diajak belajar bagaimana setiap desainer sampul buku berusaha menyampaikan spirit buku dan pemahaman terkait isi buku kepada pembaca. Bukan hanya lewat tulisan penulis, tapi juga melalui ilustrasi-ilustrasi cantik di sampul bukunya. Jadi, pesan yang disampaikan penulis akan tersampaikan sempurnya, dari sampulnya dan tulisannya. Sampai bertemu di acara GoodReads Surabaya selanjutnya.

Sebelumnya Rupa Wajah Makassar
Selanjutnya Penyiar Radio, Bukan untuk Mencari Materi

Belum ada komentar

Tinggalkan pesan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *