Melihat Jakarta Lebih Dekat melalui 6 Film Ini


Jakarta sebagai kota urban yang menjadi tujuan sebagian besar masyarakat untuk mengadu nasib tentunya memiliki cerita-cerita tersendiri. Cerita di balik gemerlap lampu kota dan gedung tinggi. Untuk Generasi 80-an mungkin tidak asing lagi dengan sinetron yang mengangkat cerita Si Doel anak Betawi. Sinetron yang masih terngiang hingga saat ini dan sudah diangkat menjadi film layar lebar juga. Terkadang dalam layar kaca kita bisa memaknai sisi lain dari sebuah rutinitas kehidupan sekitar yang kadang kita tak pernah sadari.

Pilajar merekomendasikan 6 film untuk melihat Ibukota Jakarta dari layar kaca dengan segala kompleksitas kehidupan yang ada didalamnya. Riuhnya orang yang berlalu lalang, gemerlang lampu dimalam hari, kehidupan dalam gedung tinggi, kampung padat penduduk, mereka yang mencari rezeki haram atau halal, hingga tema yang sensitif seperti korupsi dan LGBT.

Jakarta maghrib (2010)

Film Jakarta Maghrib mencoba manampilkan kompleksitas yang terjadi di Kota Jakarta dari siang hingga waktu maghrib. Maghrib bukan saja ditampilkan sebagai fenomena relijius tetapi sebagai bagian yang khas dari masyarakat urban Jakarta. Segala paradoks bertubrukan dalam satu bidang yang sama. Semua hal tersebut diungkapkan dalam enam cerita yang saling bertautan.

Cerita pertama yaitu Iman cuma ingin Nur, mengisahkan tentang sepasang suami istri yang memiliki Keinginan bercinta setelah penat bekerja dan mengurus rumah tangga terus menemui kendala. Cerita kedua yaitu Adzan, berkisah tentang seorang laki-laki renta Pak Armen dan seorang Preman. Suatu sore, mereka bercakap-cakap di warung, membicarakan banyak hal. Musholah yang bersih tapi sepi jamaah hingga menjelang magrib sesuatu terjadi pada Pak Armen yang membuat Baung menangis lalu Adzan hinga warga kampung berbondong-bondong ke mushola.

Cerita selanjutnya yaitu Menunggu Aki, Cerita si Ivan, Jalan Pintas, dan terakhir Bad’da. Terakhir dari film ini menceritakan semua tokoh yang berada di dalam lima cerita sebelumnya untuk kemudian dipertemukan di dalam satu segmen yang sama. Berinteraksi secara langsung, setelah tiap-tiap orang mengalami Maghrib-nya masing-masing di Jakarta.

Sanubari Jakarta (2012)

Sanubari Jakarta merupakan film drama Indonesia yang dirilis pada 12 April 2012. Film ini menceritakan tentang tema cinta dengan berlatar belakang percintaan kaum urban kota metropolitan, yaitu Jakarta dalam satu tema cerita yang sama. Yaitu tentang sisi lain yang dimiliki oleh tiap manusia. Bahwa manusia bukan hanya memiliki sisi terang namun juga sisi gelap.

Atas inisiatif Lola Amaria, ia mengajak sembilan sutradara muda untuk bergabung dan mengerjakan film ini. Uniknya lagi, film mencoba menyentuh tema yang jarang diangkat oleh sineas kita, yaitu LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual dan Transegender). Maka hadirlah sepuluh film pendek yang mencoba membungkus kisah-kisah yang cinta yang terjadi di antara insan yang kerap dipandang sebagai anomali ini. Film ini menampilkan 10 plot cerita dalam penyusunannya yaitu pembalut, kentang, 1/2, lumba-lumba, topeng keladi, terhubung, menunggu warna, malam ini aku cantik, untuk a, kotak cokelat.

Jakarta Undercover (2017)

Jakarta Undercover menceritakan sisi gelap Jakarta yang tidak terlihat oleh orang biasa. Di balik gemerlapnya lampu-lampu yang menghiasi hutan beton, Ibu Kota miliki cerita yang tertutup rapat.

Situasi klub malam, kompleks rumah susun kumuh dan ruang prostitusi merupakan tiga hal yang terus disorot sepanjang film Jakarta Undercover. Tidak sepenuhnya rekaan, sisi gelap kehidupan tersebut memang kerap hadir di bawah remangnya lampu ibukota. Jakarta Undercover berusaha menyuguhkan ketiga hal tersebut di depan layar.

Sebelumnya, film Jakarta Undercover sudah pernah dirilis pada tahun 2006. Film tersebut diangkat dari buku karya Moammar Emka dengan judul yang sama. Buku tersebut merupakan kumpulan artikel yang ditulis Moammar Emka tentang kehidupan malam di Jakarta. Artikel-artikel tersebut sebagian termuat di Majalah Popular di akhir 90-an.

Selamat Pagi, Malam (2014)

Film Selamat Pagi, Malam membawa penonton kedalam keunikan kota Jakarta setelah matahari tenggelam melalui cerita tiga perempuan yang hidupnya berubah melalui pertemuan-pertemuan tak terencana di suatu malam melankolis di Jakarta. Disutradarai oleh Lucky Kuswandi, film ini tayang perdana pada 19 Juni, 2014.

Salah satu cerita mengenai keunikan kota Jakarta selepas matahari terbenam melalui kisah hidup tiga wanita. Anggi tidak merasa Jakarta menjadi rumahnya sepulangnya dari New York, lebih-lebih lagi ketika dirinya melihat Naomi, pasangannya selama di New York yang lebih dulu pulang menuju Jakarta, berkompromi atas kemunafikan gaya hidup kelas atas ibukota.

Indri, salah satu penjaga handuk yang ada di gimnasium yang kepingin menaikkan standar hidupnya yang pas-pasan, merasa bahwa salah satu laki-laki kaya yang dia kenal melalui chatting yang ada di smartphone cicilannya merupakan jawaban untuk masalahnya. Terakhir, Ci Surya, ibu rumah tangga yang dikenal cuma dengan nama suaminya, Koh Surya. Ia merasa tak berarti sesudah suaminya meninggal. Apalagi pada saat dia tahu jikalau selama ini suaminya mempunyai kekasih lain, salah satu penyanyi bar kelas bawah Jakarta. Pada malam yang sama, kehidupannya berubah di luar rencana.

Belkibolang (2010)

Belkibolang adalah sebuah antologi film pendek, sembilan malam bercerita tentang cinta, hubungan, kepercayaan dan adrenalin di kota Jakarta. Diawali cerita berjudul Payung, Segmen kedua yaitu Percakapan ini yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah. Film ini menceritakan sebuah percakapan yang tak berawal maupun berujung oleh omen, seorang koki dengan tetangganya mengenai pasangan, hubungan, pilihan, hingga rasa keibuan.

Film selanjutnya yaitu Mamalia (Tumpal tampubolon), Planet gajah (Rico Marpaung), Tokek (Anggun Priambodo), Peron (Azhar lubis), Ella (Wisnu Suryapratama), Roller Coaster (Edwin).

Terakhir judulnya Full Moon yang disutradarai oleh Sidi Saleh. Menceritakan tentang seorang supir taksi bernama Bobi yang tetap mengejar setoran di malam tahun baru dengan suatu keinginan terpendam yang ingin ia utarakan kepada istrinya yang bernama Isna yang ia bawa ikut serta bersamanya di malam itu. Segmen ini berhasil membawa emosi kejengkelan, kekesalan, bahkan rasa iba atas apa yang dirasakan sang supir bersama penumpang yang masuk silih berganti ke dalam taksinya, hingga ulah istrinya di malam itu yang bercampur aduk dengan keinginannya yang pada akhirnya ia lontarkan tepat di malam pergantian tahun.

Jakarta Hati (2012)

Seorang anggota dewan yang membawa tas berisi uang satu milyar hasil korupsi dihadapkan dengan fakta seorang anak kelaparan yang dipukuli karena menyolong sepotong tempe. Seorang polisi muda berhadapan dengan ayahnya yang tukang tipu dan sudah lima tahun lenyap. Seorang penulis yang sedang kronis kondisi keuangannya harus mengantar anaknya menghadiri pesta ulang tahun anak orang kaya. Sepasang suami istri muda terpaksa saling bicara jujur tentang hubungan mereka saat mati lampu. Seorang laki-laki didatangi seorang perempuan yang memberitahunya bawa pacarnya berselingkuh dengan isteri lelaki tersebut. Seorang janda keturunan Pakistan yang berdagang di Pasar Senen bertengkar dengan pria broker pemesanan kue keturunan Tionghoa. Enam cerita ini akan mencoba mengeksplorasi apakah kota ini masih punya hati.
Jakarta Hati merupakan film Indonesia yang dirilis pada 8 November 2012. Film ini disutradarai oleh Salman Aristo serta dibintangi antara lain oleh Slamet Rahardjo, Andhika Pratama, Roy Marten, Dwi Sasono, Agni Pratistha, Dion Wiyoko, Shahnaz Haque, Framly Nainggolan, Surya Saputra, dan Asmirandah. Hadir sebagai sebuah film omnibus yang terbagi dalam enam cerita berbeda namun dengan satu kesamaan, yaitu menjadikan kota jakarta sebagai settingnya. Mengemukakan dari apa yang selama ini tak bisa terbahasakan dalam suasana ibukota yang serba hiruk pikuk.
Sebelumnya Tanah Kita
Selanjutnya Yudha: Menyambung Silaturahmi Masyarakat melalui Telkomsel

Belum ada komentar

Tinggalkan pesan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *