Hai, Manusia-Manusia Perayaan


Aku ingin bercerita tentang suatu pandangan yang mungkin tak semua orang suka. Tak semua ingin tahu akhirnya ketika membaca. Tentang suatu yang telah lama menjadi biasa. Tentang kita yang merayakan apa-apa; apa-apa dirayakan oleh semua. Seakan wajib; terasa kurang bila tak ada.

Ya. Tentang perayaan; perayaan yang dirayakan. Tentang kesenangan yang dirayakan. Tentang kesedihan yang dirayakan. Bukannya aku tak suka merayakan apa-apa yang biasa dirayakan orang banyak. Hanya saja tidak suka terjebak lebih dalam paradigma yang perlahan saya detail perhatikan; banyak orang terjebak di dalamnya. Terjebak dalam hingar bingar kebingungan; ketika suatu tidak dirayakan rugi rasanya. Itu rayakan; ini rayakan. Sisi terburuknya pun muncul; yang dalam hemat saya ini sudah sampai di level mengkhawatirkan. Misal di hari special; temanmu yang katanya sahabat sejati; yang takkan terpisahkan kecuali oleh tuhan ternyata tidak datang dan kemudian marahmu muncul, seakan tak mau lagi melihat wajahnya. What the? Apa ini? Penyakit akhir zaman? Pertemanan diukur sekadar kehadiran? Masa bodoh hari spesial. Pengorbanan dan setia sama sekali tidak bisa diukur dari sejumput hal itu. Mungkin lagu lama; bahwa ketika saya selalu percaya proses penghargaan kita harusnya lebih melihat perjalanan, bukan sekedar momentum sesaat. Proses adalah segalanya; momentum memang tidak bisa diulang tapi jangan sampai kita tenggelam dalam menyesalkan ini itu.

Semoga kedepannya kita lebih mengedepankan akal sehat dalam menilai sesuatu; ini maupun itu. Jangan sampai perjalanan panjang rusak berantakan paradigma yang sudah dijabar lebarkan diatas. Perayaan memang penting; tapi bukan segalanya. Dia bukan indikator sejatinya persahabatan; apalagi murninya kesetiakawanan. Salam.

 

Sebelumnya Saya Mengingat Kematian Sjahrir pada hari Kelahiran Bung Karno
Selanjutnya Bangunan Bersejarah Yang Tak Berjejak

Belum ada komentar

Tinggalkan pesan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *