Keindahan Air Terjun Ere A’lulua di Tanah Bulukumba


The gladdest moment in human life, me thinks, is a depature into unknown land

Sir Richard Burton.

Mendung hitam menyelimuti kaki gunung Lompobattang menyambut saya dan rombongan pendaki. Guyuran hujan menyapu Kelurahan Borong Rappoa, Kelurahan yang berada tepat di jalur masuk hutan lindung gunung Lompobattang. Seketika itu, dingin menusuk hingga ke sumsum tulang yang setiap harinya dinikmati oleh masyarakat yang hidup di kaki gunung Lompobattang. Sehari-hari kehidupan masyarakat diisi dengan aktivitas bertani, beragam tumbuhan ditanam di lokasi yang tanahnya subur ini. Cengkeh, merica dan padi bukan lagi hal yang susah untuk ditemukan.

Lumpur, batu sungai dan rumput liar menemani perjalanan kami menuju ke lokasi Air Terjun. Medan yang ditempuh cukup susah untuk dilalui oleh motor sehingga para pendaki memutuskan untuk berjalan kaki menuju lereng gunung Lompobattang. Bebatuan besar memenuhi jalanan yang sehari-hari dilalui oleh warga dalam menjalankan aktivitas. Dalam perjalanan menuju lokasi, kami dimanjakan dengan harumnya kayu manis yang dikeringkan oleh warga sekitar.

Na’na, lingkungan yang merupakan bagian dari Kelurahan Borong Rappoa, berada tepat ditengah lereng pengunungan Lompobattang. Sejauh mata memandang hanya ada deretan gunung yang mengelilingi perjalanan kami. Pipa-pipa air yang berasal dari kaki gunung pun bersebaran sepanjang perjalanan yang kami lalui. Air yang segar dan dapat langsung diminum memenuhi bak-bak penampungan air yang telah tersedia dipinggir jalan. Sapaan warga setiap bertemu rombongan menjadi penyemangat untuk terus menelusuri jalan menuju air terjun Ere’ Alulua.

Tampak sebuah rumah panggung sederhana disebelah kanan jalan yang kami lalui, Rumah panggung khas yang didiami mayoritas warga di Na’na. Daeng Sali, pemilik rumah panggung tersebut, mengajak saya dan rombongan pendaki lainnya untuk beristirahat sejenak dirumahnya. Dirumah Dg. Sali, saya dan rombongan disuguhi pisang untuk dimakan dan minuman tua’, minuman yang bagi sebagian orang adalah obat tetapi apabila dikonsumsi secara berlebihan juga berefek buruk.

Perbincangan saya dan Dg. Sali banyak mengenai aktivitas sehari-hari warga. Dg. Sali menjelas serta berusaha menunjukkan titik lokasi yang menurutnya cocok dijadikan lokasi camping dalam kirab wisata ini. Dg. Sali menjelaskan 2 titik Air Terjun yang ada di lereng pengunungan Lompobattang. Salah satu Air Terjun, yang dinamakan oleh warga sebagai Air Terjun Ere’ Allulua’ , ditunjuk oleh Dg. Sali. Menurut penuturannya jarak dari rumahnya dan lokasi Air Terjun sangatlah dekat, Kurang lebih 20 menit menelusuri perkebunan cengkeh, kopi dan merica warga setempat. Keramahan warga sekitar lereng gunung Lompobattang tercermin dari perilaku Dg. Sali, Ia meminta anak bungsunya untuk menunjukkan jalan ke lokasi Air Terjun yang ia tunjukkan kepada rombongan.

Menghabiskan waktu sekitar 15 menit beristirahat di rumah Dg. Sali, Rombongan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Perasaan lega diantara para pendaki tampak setelah anak Dg Sali memutuskan untuk menemani rombongan ke Air Terjun Ere’ Allulua’. Wajah sumringah dan semangat para pendaki. Bebatuan sungai serta suara aliran anak sungai menyambut saya dan rombongan. Sejenak saya mengira itu adalah suara hujan tetapi setelah menemukan anak sungai pertama. Saya semakin yakin bahwa lokasi yang akan dituju merupakan lokasi yang indah.

Setelah berjalan menyusuri kebun warga, Deru mesin pembangkit listrik yang dijadikan sumber pencahayaan warga sekitar terdengar dari kejauhan. Saya semakin penasaran dengan keindahan yang akan saya nikmati dan rombongan. Semakin lama berjalan semakin terdengar suara mesin yang menderu semakin dekat. Atap rumah yang terbuat dari seng pun terlihat, Saya semakin memantapkan langkah kaki untuk melihat Air Terjun seperti yang diceritakan oleh Dg. Sali. Tiang-tiang kolong rumah pun terlihat, Rumah panggung sederhana yang dikolongnya terdapat ruangan persegi empat yang terkunci sebagai tempat penyimpanan mesin pembangkit listrik.

Air Terjun Ere’ Allulua’ belum tampak tetapi suara deburan air yang jatuh ke tanah sudah terdengar sangat dekat sesekali diantara bunyi deru mesin pembangkit listrik yang ada dirumah itu. Setelah beberapa langkah, baju yang saya pakai mulai basah terkena air yang jatuh dari puncak lereng gunung. Semakin mempercepat langkah kaki saya untuk berada tepat dibawah air terjun. Jembatan yang terbuat dari bambu serta bendungan kecil untuk menyaring sampah sebelum masuk ke pipa air menyambut saya. Sejenak saya tersadar telah berada di Kaki air terjun Ere’ Allulua’. Jumlah air yang mengenai saya semakin banyak layaknya air hujan. Saya kemudian mencoba menghubungkan air yang beterbangan ini dengan mengapa warga menyebutnya Ere’ Allulua.

Keindahannya merupakan bentukan alam yang tak terkira nilainya, Air yang jatuh dari puncak mengaliri kehidupan dibawahnya bukan menghayutkan apalagi menenggelamkan. Ia harus menjadi berkah bagi manusia sebagaimana manusia seharusnya menjadi berkah bagi alam semesta. Mahatma Gandhi pernah berkata “sesungguhnya alam dapat memenuhi seluruh kebutuhan manusia dimuka bumi tapi tidak untuk keserakahan“.

Sebelumnya Kebijakan Impor Garam, Sebuah Kegentingan atau Kepentingan?
Selanjutnya Newton (2017): Bertahan dengan Kejujuran

1 Comment

  1. Muhammad Bayu Aditya
    20 April 2018
    Balas

    Dibagian mana tempatnya di Bulukumba ini kak?

Tinggalkan pesan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *