Entrok: Membaca Kisah Marni dan Rahayu


Di dunia ini, aku hanya takut mendapat karma. Merebut milik orang lain, lalu suatu saat punyaku sendiri yang diambil. Bersenang-senang setelah membuat orang lain menangis. Selain itu, tak pernah ada yang kutakutkan.

“Mbok, aku mau punya entrok,”. Marni kecil sudah tidak lagi nyaman dengan tubuhnya, ada dua gumpalan yang terguncang-guncang. Rasa tidak nyaman itu membuat dia ingin menjadi seperti Tinah yang payudaranya menyembul dengan indah. Semua karena ada “Entrok” yang menyangga payudaranya dan dia ingin memilikinya. Keinginan Marni yang sederhana ini menjadi tak masuk akal karena sebagai keluarga miskin yang tinggal bersama ibunya yang hanya seorang buruh pengupas singkong. Entrok adalah barang yang mewah dan tak terbeli. Namun Marni tak menyerah dengan keadaannya, menjadi kuli angkut di pasar agar mendapat uang untuk membeli Entrok. Usahanya berhasil dan dari pengalamannya itu membentuk persepsi pada dirinya bahwa sebuah mimpi bisa diraih asalkan berusaha dan bekerja keras.

Novel ini menyajikan cerita dua perempuan berbeda generasi. Marni, sang Ibu dan Rahayu sebagai seorang anak. Perbedaan generasi antara mereka membuat adanya pergesekan hubungan. Rahayu sebagai generasi berpendidikan tak nyaman dengan pandangan masyarakat sekitar terhadap orangtuanya, padahal Marni hanya berusaha mati-matian untuk mencapai kehidupan yang lebih baik. Sang Ibu memulainya dengan menjadi kuli di Pasar. Hasil tabungannya, digunakan untuk modal berjualan, hingga tak lama usahanya pun berkembang. Dari berjualan sayur-sayuran keliling kampung, usahanya merambah pada kreditan panci dan barang lainnya hingga Marni membungakan uang yang dipinjamkan pada tetangganya.

Cap rintenir atau lintah darat yang masyarakat berikan membuat Rahayu membenci orang tuanya, Marni. Cibiran anaknya dan masyarakat tak menyurutkan usaha Marni. Sebaliknya, dia menjadi kebingungan dengan keadaan di sekitarnya. Mereka yang mengolok-olok masih saja meminjam uang kepada Marni atau bahkan menikmati tayangan televisi di rumah Marni yang memang satu-satunya di desa tersebut. Rahayu pun tak berbeda jauh, dia yang mengatakan ibunya sebagai pendosa malah merebut suami orang lain dan menikah dengan lelaki itu.

Selain cap sebagai rintenir, Rahayu menganggap tingkah Sang Ibu yang masih memberikan sesajen kepada arwah leluhur dan tirakat tengah malam di bawah pohon sambil berdoa kepada Ibu Bumi adalah sebuah dosa besar. Bahkan tak jarang dibuangnya sesajen berupa tumpeng dan ayam panggang yang diletakkan oleh Marni. Ia marah besar kepada ibunya. Diapun menyuruh ibunya untuk hanya meminta kepada Allah, bukan kepada yang lain.

“Bagaimana mungkin aku meminta kepada Allah swt sedangkan aku tidak pernah mengenalnya…”. Marni menjawab anaknya dengan jujur.

Beragam Isu yang menjadi bahasan

Tak hanya itu, melalui karya novel pertamanya, Okky Madasari ingin menceritakan bagaimana pemilu yang diselenggarakan oleh pemerintah orde baru sama sekali tidak menjalankan prinsip Bebas dan Rahasia. Pemerintah melalui perangkat masyarakatnya dari Camat hingga turun ke tingkat ketua RT menekan masyarakat untuk memilih partai Kuning berlambang beringin pada tiap pemilu. Harus! Bahkan menampilkan Marni yang seringkali dimintai sumbangan oleh aparat, untuk melancarkan pemilu  yang dilangsungkan.

Pemerintah khususnya tentara-tentara itu menindas rakyat sipil. Caranya mudah dengan melabeli seseorang dengan PKI, maka dipastikan hidupnya akan sengsara. Pembunuhan misterius yang marak terjadi pada tahun 1980an menjadi salah satu bukti kekejaman mereka dengan alasan keamanan. Jika tak cukup membuatmu yakin untuk membaca buku ini, dihadirkan pula cerita bagaimana pemaksaan program KB dilakukan saat itu dan Tragedi Kedung Ombo. Tragedi yang memakan korban para penduduk sekitar. Nuansa feminisme pun merebak di lembaran novel ini dimana akan telihat dengan jelas bahwa berbeda dengan buruh pria yang mendapat upah berupa uang buruh-buruh perempuan di pasar tidak diupahi dengan uang melainkan dengan bahan makanan.

Agama pun tak luput dari pembahasan, cerita tentang Koh Cahyadi yang harus mencantumkan agama Kristen dalam KTP nya padahal ia adalah penganut Konghucu. Barongsai yang merupakan warisan tradisi leluhurnya dilarang karena dianggap simbol PKI, Koh Cahyadi yang kedapatan bermain barongsai otomatis menjadi incaran militer hingga ia harus menyembunyikan dirinya dari kejaran para tentara.

Buku ini hadir bukan hanya dengan kekuatan cerita yang apik, tapi juga dilengkapi balutan sejarah . Bacalah!

Sebelumnya Black Mirror “Arkangel”: Sisi Gelap Hyperparenting & Menghamba pada Teknologi  
Selanjutnya Menyusuri Pasar Terapung Khas Suku Banjar

Belum ada komentar

Tinggalkan pesan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *