Negarahukum.com: Menyebarluaskan Pengetahuan adalah Kebahagiaan


Perkembangan teknologi yang begitu cepat selalu beriringan dengan arus informasi yang begitu cepatnya bisa diakses oleh publik. Semua seolah menjadi mudah dengan hanya mengetik keyword apa yang akan dicari pada search engine seperti google, maka pilihan portal yang menyajikan informasi terkait akan muncul dengan jumlah yang sulit dihitung lagi. Terlebih di zaman yang serba digital, semua informasi seolah berada digenggaman dengan hadirnya gadget.

Rumitnya persoalan hukum terlebih kepastian hukum di negeri ini, membuat banyak orang yang awam akan semakin acuh terkait persoalan hukum apalagi untuk membaca pasal demi pasal yang ada dalam setiap Undang-undang sehingga anekdot bahwa hukum selalu tumpul ke atas dan tajam ke bawah seakan sudah diamini oleh setiap orang. Belum lagi ketika harus disajikan perselingkuhan antara hukum dan politik.

Ditengah derasnya arus media yang menyajikan informasi terkait hukum dan politik, Damang yang merupakan alumni Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin menghadirkan negarahukum.com sebagai salah satu portal berkualitas yang menyajikan opini tentang berbagai fenomena dan kasus-kasus menarik di dunia hukum maupun politik. Terbukti salah satu tulisannya di negarahukum.com pernah dikutip dalam naskah akademik revisi UU Pilkada tahun 2016.

Naskah akademik revisi UU Pilkada tahun 2016. Baca disini halaman 17.

Damang, SH, MH. menyelesaikan studi S1-nya di Universitas Hasanuddin, jurusan Ilmu hukum dan saat ini baru saja menyelesaikan studi S2-nya di Universitas Muslim Indonesia. Sejak tahun 2010 hingga sekarang, sudah aktif menulis di berbagai media massa cetak dan online. Tulisannya dalam bentuk opini banyak dimuat di Tribun Timur, Fajar, Harian Gorontalo Post, Harian Amanah, dan Tribun Bone. Tulisannya selalu bertemakan isu hukum aktual. Buku yang sudah ditulis: “Carut Marut Pilkada Serentak 2015”, Kumpulan Cerpen “Menetak Sunyi” dan Buku siap terbit “Asas dan Dasar-dasar Ilmu Hukum”.

Simak obrolan bersama owner negarahukum.com untuk mengetahui lebih dalam perjuangan dari awal hingga negarahukum.com dikenal banyak orang saat ini.

Boleh ceritakan apa itu negarahukum.com,  juga asal mula dan tujuan dibuatnya?

Awalnya negarahukum.com dibuat untuk sekadar tempat saya mengunggah materi kuliah. Dibuat tahun 2009, sebagai seorang dosen, saya mengupload materi kuliah di negarahukum.com, kemudian mahasiswa nantinya tinggal mengunduh materi di negarahukum.com, sehingga ketika saya menjelaskan mereka tidak perlu mencatat lagi. Alhamdulillah sambutan mahasiswa kala itu bagus. Jadi sewaktu awal dibangun, kategorinya hanya berputar pada pengelompokan berdasar materi hukum yang saya ajarkan di kuliah. Dibantu oleh seorang teman, Amran Saputra S.Kom, saya yang tidak mengerti tentang cara membuat web hanya mengurusi seputar konten apa saja yang harus diunggah di negarahukum.com, sedangkan teman saya tersebut yang mengurusi segala macam hal yang berbau teknis.

Tujuan saya membuat negarahukum.com waktu itu, hanya karena senang berbagi. Berbagi pengetahuan, beropini tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan bidang studi saya. Seiring berkembangnya negarahukum.com, kategori tulisannya bertambah dari sekadar mata kuliah, juga menjadi tempat saya untuk menuliskan opini tentang berbagai fenomena dan kasus-kasus menarik di dunia hukum maupun politik. Kata seorang teman, daripada hanya menjadi status di facebook, lebih baik ditaruh di web saja. Dari situlah kemudian saya rajin menuliskan opini di negarahukum.com, lalu mengajak banyak teman-teman sejawat untuk menuliskan opininya di negarahukum.com, yang hingga kini kira-kira berjumlah 20 penulis.

Portal negarahukum.com, dalam hal pengelolaan, apakah sampai sekarang masih dibantu oleh teman atau ada bantuan teknis, selain kak Damang sebagai owner?

Teman (Amran Saputra) sudah tidak lagi bersama saya di negarahukum.com, hanya saja saya sudah mempekerjakan tenaga profesional untuk mengurusi segala hal yang berbau teknis.

Sejak 2009 sampai sekarang, apa saja tantangan yang dihadapi negarahukum.com? Bisa juga diceritakan kalau ada hal menarik selama menjalankan negarahukum.com.

Sampai sekarang, biaya hosting masih pakai dana pribadi. Tenaga teknis untuk mengurusi web, saya bayar dari penghasilan situs di google (read:google ads). Jadi penghasilan web tersebut sederhananya menjadi gaji untuk tenaga teknis tersebut.

Salah satu hal yang mungkin menarik untuk diperhatikan, adalah ketika dalam revisi UU Pilkada tahun 2016, naskah akademiknya mencantumkan negarahukum.com sebagai salah satu referensinya (baca tulisan tersebut disini). Apresiasi berupa tanggapan balik terhadap tulisan saya adalah salah satu kebahagiaan tersendiri sebagai seorang yang hobi menulis dan beropini.

Apa sih tujuan yang ingin dicapai negarahukum.com?

Saya hanya senang berbagi. Menyebarluaskan pengetahuan, melalui beropini di media massa kepada semua orang adalah kebahagiaan bagi saya. Mendapatkan tanggapan balik, bisa berdiskusi mengenai opini saya tentang sebuah kasus menjadi kebahagiaan tersendiri bagi saya, seperti yang sudah saya katakan, tujuan negarahukum.com hanya sesederhana itu. Apalagi di zaman dimana media itu menjadi salah satu pilar penting dalam demokrasi, negarahukum.com sekaligus menjadi wadah saya untuk memperkenalkan diri saya, melalui opini dan pengetahuan yang saya bagi melalui portal ini.

Di pertanyaan ini saya ingin menanyakan pendapat singkat kak Damang tentang beberapa kasus yang sempat viral di media massa. Yang pertama tentang kasus Fidelis.

Soal Fidelis, penegak hukum kembali harus paham tentang tujuan dibentuknya UU Penyalahgunaan Narkoba, yaitu mencegah penyalahgunaan. Hukum tidak bisa selamanya terkungkung dalam teks undang-undang, hukum harus lebih bisa menggali hingga menemukan apa yang disebut keadilan tertinggi. Jika bicara kepastian hukum, sudah pastilah jika Fidelis bersalah. Tapi jika melihat keadilan hukum, apakah sudah adil jika ditilik dari apa yang saya bahas di atas? Adilkah kita menghukum seseorang yang ingin mengobati istrinya, dihukum sama dengan orang yang mengedarkannya? Jika kemudian juga ditilik dari kemanfaatan hukum. Manfaatnya apa? Istri yang menjadi tujuan melakukan kejahatan sudah berpulang.

Kalau terkait polemik UU ITE?

Secara singkat, UU ITE harus berani membedakan penghinaan seperti kualifikasi dalam KUHP. Dapat ditelusuri kembali dalam KUHPIdana, antara penistaan tertulis (penghinaan berat; Pasal 310 ayat 2 KUHP) diancam pidana penjara 1 (satu) tahun 4 (empat) bulan, sementara kalau penghinaan ringan (Pasal 315 KUHP) hanya diancam pidana penjara 4 (empat) bulan, 2 (dua) minggu. Perbedaan mendasar dari kedua jenis penghinaan tersebut sehingga berbeda ancaman pidananya, kalau penistaan, penghinaannya dalam bentuk menuduh melakukan perbuatan (seperti: pencuri, pelacur, koruptor), sedangkan penghinaan ringan, tuduhannya dalam bentuk istilah (seperti: anjing, sundal, bajingan).

Andaikata terjadi penghinaan melalui media sosial (facebook, twitter, whatsapp, BBM, Line) misalnya, mau penghinaannya menuduh dengan istilah saja atau menuduh dengan perbuatan, sudah pasti akan diancam pidana 4 (empat) tahun semuanya, tanpa menyesuaikan lagi dengan kadar perbuatan jahatnya. Jerat pidana yang semacam itu, selain tidak memenuhi rasa keadilan, jelas menyimpangi pula postulat: culpae poena par esto (hukumlah seorang setimpal dengan perbuatannya).

Delik penghinaan dalam UU ITE, bolehlah meninggalkan kelegaan karena telah disatir dalam delik aduan. Tapi soal harmonisasinya dengan kualifikasi delik penghinaan dalam KUHPidana, belumlah paripurna. Di kiranya jenis penghinaan itu, hanya pencemaran nama baik (penistaan) dan fitnah saja. Padahal masih ada jenis penghinaan lainnya: penghinaan ringan, mengadu secara memfitnah, tuduhan secara memfitnah, dan penghinaan terhadap orang yang sudah meninggal.

Andaikata dalam penjelasan Pasal 27 ayat 3 (UU ITE pasca revisi) cukup diformulasikan: bahwa ketentuan pada ayat ini mengacu pada ketentuan “penghinaan” yang diatur daiam KUH Pidana. Setidak-tidaknya, itu sudah lebih dari pada cukup dalam mengharmonisasi ketentuan delik penghinaan melalui sistem elektronik. Itu saya sudah pernah saya tuliskan di negarahukum.com.

Delik Penghinaan Pasca Revisi UU ITE

Sangat menarik kak. Pendapatnya tentang Tsamara Amani? Kami penasaran pendapat Kak Damang, meskipun ini bukan kasus Hukum.

Terkait kasus Tsamara, kita harus jujur melihat. Rakyat sudah bosan dengan politisi-politisi senior yang rata-rata sudah berumur. Makanya, ketika dimunculkan politisi muda, perempuan, dengan lipstiknya, panjang rambutnya, bicara yang lantang nan lancar, publik langsung tertarik. Ditambah dengan sokongan media yang menjadikan Tsamara kian melejit. Namun yang menyandingkan Tsamara dengan Fahri Hamzah, harus lebih jujur melihat ini sebagai sesuatu yang tidak pantaslah.

Orang harus lebih paham melihat Fahri Hamzah bahkan Fadli Zon sebagai orang-orang yang punya track record yang panjang. Jangan hanya melihat track record yang disodorkan media masa kini, tapi juga harus berani membaca tentang perjuangannya, karya apa saja yang sudah dibuatnya, dan banyak hal-hal bagus lainnya di Fahri Hamzah atau Fadli Zon. Saya termasuk orang yang sering mengkritik keduanya di Twitter, dan begitulah seharusnya mental-mental politisi yang ideal. Keduanya bebal dan tahan banting, dan anti block. Tidak seperti beberapa politisi lainnya yang main block, baru dikritik satu dua tweet.

Sangat menarik kak. Sebelum ke pertanyaan terakhir, kasih dong Pilajars beberapa rekomendasi buku, film dan musik kesukaan kak Damang?

Kalau buku, saya suka buku Melawan Takdir-nya Hamdan Juhannis, buku-bukunya Kasman Singodimejo, salah satunya bukunya yang berjudul Hidup Itu Berjuang. Juga saya suka buku-bukunya Pramoedya Ananta Toer.

Film, saya suka Freedom Of Writers (2007). Life Is Beautiful (1997). Salah satu film Indonesia yang saya suka, 3 Hati, Dua Dunia, Satu Cinta. Disinilah menurut saya nilai-nilai toleransi secara apik dijabarkan. Ending-nya tidak sama seperti banyak film dengan tema serupa. Tidak selamanya kemudian cinta bisa di atas segalanya.

Kalau musik jangan kaget ya dengan selera saya. Saya suka Rossa, Iwan Fals, juga Avril Lavigne. Tidak lupa Maher Zain. Rossa, saya suka mendengarkan lagunya ketika saya sedang menulis, untuk membantu saya menghaluskan tulisan saya. Sedang Maher Zain, saya salut dengan caranya untuk mengenalkan islam melalui musik. Mungkin orang belum bisa memahami isi lagunya, tapi bisa berawal dari menikmati musiknya. Dakwah lewat musik, berkaca dari lagunya Michael Heart – We Will not Go Down (Gaza Tonight), ketika hukum diam, PBB sebagai lembaga perdamaian dunia tidak bisa berbuat apa-apa, tapi kemudian musik bisa menghentak, mendamaikan dan mendinginkan keadaan.

Pertanyaan terakhir Kak. Ada pesan-pesan untuk anak-anak muda gak kak terutama para pembaca pilajar?

Zaman dulu, ketika internet belum lahir, mencari informasi belum semudah seperti sekarang ini. Kita dulu ditawari buku tebal, langsung sikat. Beda dengan anak-anak muda sekarang yang seakan anti buku tebal. Makanya pesan saya, kembali lah membaca buku. Memang internet adalah sebuah sumber informasi yang lengkap, tapi kemudian banyak pengetahuan yang tidak ada di internet dan hanya bisa didapatkan dengan membaca buku. Pun saya termasuk rajin menulis opini di internet atau dunia maya, tapi saya lebih mengagumi karya saya yang berupa buku. Ada sesuatu yang lebih jika dituangkan dalam bentuk buku. Itu aja pesan-pesan saya untuk anak muda sekarang. Kembalilah membaca buku.

Terima kasih sekali lagi Kak Damang untuk waktu dan curahan ilmunya. Senang bisa belajar langsung kepada kakak. Salam.

Jika ingin ngobrol atau berkenalan dengan Owner negarahukum.com dapat dihubungi via email: damang.negarahukum@gmail.com dan HP: 085395768887. Jika ingin melalui media sosial bisa menghubungi via Twitter : @DamangAverroes dan facebook: Damang Averroes Al-Khawarizmi.

 

Sebelumnya Urbanisasi dan Timpangnya Kebijakan
Selanjutnya Kampung Ekologi (Batu Into Green)

Belum ada komentar

Tinggalkan pesan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *