Black Mirror “Arkangel”: Sisi Gelap Hyperparenting & Menghamba pada Teknologi  


Black Mirror adalah salah satu serial Netflix yang di setiap episodenya seakan membukakan mata penonton tentang sisi gelap teknologi. Ada satu episode dari Black Mirror membahas isu yang sedang berkembang saat ini. Episode Arkangel mengangkat sebuah topik menarik tentang hyperparenting dan teknologi.

Cerita ini berawal ketika seorang ibu mengajak anaknya yang masih balita ke sebuah taman. Tak diduga, ternyata sang anak hilang karena lolos dari pengawasan hingga membuat sang ibu panik mencarinya. Singkat cerita, sang anak ditemukan dalam kondisi yang masih baik-baik saja. Namun, sang ibu sudah terlanjur diliputi rasa cemas berlebihan yang berkelanjutan. Ibu khawatir apabila hal buruk akan terjadi lagi pada sang anak akibat kelalaiannya dalam mengawasi, maka ia berpikir untuk memanfaatkan teknologi yang membantu para orangtua untuk mengawasi anak-anaknya. Teknologi tersebut bernama Arkangel.

Implan permanen sedang disematkan pada sang anak (Sumber: www.vice.com)

Sang ibu tergiur karena iming-iming bahwa teknologi “Arkangel” akan memudahkan tugas orangtua dalam mengawasi perkembangan anak-anaknya. Meskipun sesungguhnya teknologi tersebut masih tahap percobaan (free trial). Gratis tanpa dipungut biaya.

Cara kerja teknologi tersebut adalah dengan memasangkan implan (yang ternyata permanen, tidak bisa dilepas seumur hidup) ke anak. Kemudian orangtua dapat mengawasi dan mengontrol anak dari layar, semacam komputer tablet. Terlihat canggih, teknologi tersebut dapat menampilkan dunia dari sudut pandang anak. Ke mana si anak pergi, apa saja yang dilihatnya, semua akan tampak di layar komputer tablet tersebut.

Sepintas, teknologi Arkangel sungguh canggih dan sangat positif. Ibu merasa sangat terbantu dengan adanya Arkangel karena memudahkan ia mengawasi anaknya, meskipun ia sedang bekerja. Ibu tidak lagi khawatir apabila anak bermain di luar rumah karena lokasi anak akan selalu terdeteksi lewat GPS. Ibu juga tidak perlu takut apabila anak akan melihat hal-hal yang tidak menyenangkan di luar sana karena ibu mampu mengontrol apa yang boleh dilihatnya dan apa yang tidak boleh dilihat dengan memblokir atau memblur hal-hal yang menurutnya negatif untuk anak. Ketika si anak melewati anjing yang sedang menggonggong, teknologi tersebut akan memberitahu perubahan hormon yang terjadi pada anak dengan peringatan tertentu, sehingga ibu dapat sigap mengaburkan itu dari pandangan anak. Semua hal yang memicu emosi negatif pada anak, misalnya marah, takut, cemas, sedih, dapat dihilangkan dari penglihatan anak karena ibu mempunyai wewenang untuk mengaburkan pandangan anak melalui teknologi tersebut.

Heroik? sepintas, iya.

Canggih? Ya. Segila itu teknologi bisa memanipulasi cara pandang manusia terhadap dunia yang ditinggali.

Ketika anak sudah semakin besar, ia sudah duduk di bangku sekolah, disinilah mulai tampak sisi negatif dari Arkangel tersebut. Ia tak mampu berkomunikasi dengan baik dengan para teman sebayanya. Ia tidak bisa memahami apa yang temannya lihat karena sang ibu masih saja mengaburkan/memblokir pandangan anak pada hal-hal yang menurutnya negatif. Anak tidak benar-benar melihat dunia apa adanya. Ia melihat dunia dari kacamata ibunya. Ia tidak pernah mengetahui apa itu perkelahian, apa itu anjing menggonggong, apa itu darah, dan lain sebagainya. Ia tidak mengerti apa yang dibicarakan teman-temannya. Ia merasa asing, ia merasa aneh. Kemudian, ia berusaha membayar rasa penasarannya dengan caranya sendiri.

Sang anak menusukkan ujung pensil yang tajam ke jarinya. (Sumber: www.vice.com)

Ia menusukkan ujung pensil ke jari tangannya, ia ingin mengetahui apa itu darah. Ia bertanya dan mencari tahu apa itu perkelahian, apa itu pornografi lewat temannya. Alih-alih mendapatkan informasi yang tepat, anak justru terjerumus ke hal-hal yang lebih negatif lagi. Teknologi Arkangel ini menjadi boomerang bagi ibu sendiri.

Alur cerita Black Mirror episode Arkangel menggambarkan bahaya hyperparenting dan teknologi yang sedang marak ini. Mari kita jabarkan satu-satu.

Apa itu hyperparenting?

Hyperparenting adalah sebuah pola pengasuhan dengan kontrol berlebihan yang dilakukan orangtua terhadap anak. Ibu dalam episode Arkangel adalah contoh orangtua yang hyperparenting. Ia melakukan kontrol berlebihan terhadap anak dengan selalu mengawasi apa saja yang dilakukan anak, selalu melacak keberadaan anak, berperan penuh atas pilihan terbaik untuk hidup anak, dan minimnya komunikasi dua arah antara orangtua dan anak.

Hyperparenting cenderung meletakkan orangtua sebagai pemegang kuasa terhadap anak. Anak yang baik adalah anak yang penurut terhadap orangtua, begitu kira-kira. Padahal kunci hubungan antara orangtua dan anak terletak pada komunikasi dua arah yang terjalin antara keduanya. Dengan memberikan anak kesempatan untuk mengungkapkan pendapatnya, melakukan apa yang membuat anak bahagia, orangtua dapat mengetahui dunia dari sudut pandang anak secara perlahan-lahan. Bukan justru dunia ideal yang terwujud di kepala orangtua yang dipaksakan untuk anak tinggali.

Hadirnya teknologi yang makin canggih menjadi tantangan baru bagi orangtua zaman now. Mengapa? Orangtua ditantang untuk lebih kritis terhadap hadirnya teknologi baru tersebut.

Teknologi akan selalu berkembang, makin canggih dan canggih, gila dan gila. Teknologi akan selalu hadir dengan topeng pahlawannya, seakan teknologi adalah solusi dari segala permasalahan yang ada.

Arkangel adalah salah satu analogi bahwa teknologi hadir sebagai pahlawan dari masalah pengasuhan anak. Siapa yang tidak tergiur? Teknologi ini dapat digunakan secara gratis dan memudahkan orangtua untuk mengawasi anak-anaknya. Hemat biaya, hemat waktu. Meskipun Arkangel tidaklah nyata, tapi bisa kita lihat di sekitar sudah banyak teknologi yang mampu membius para orangtua dengan iming-iming kepraktisannya.

Bukankah begitu orangtua zaman now, mendewakan kepraktisan dalam mengasuh anak dengan menghamba pada keunggulan teknologi?

Beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari Black Mirror “Arkangel”

  1. Orangtua harus lebih kritis dalam memilih teknologi yang berhubungan dengan pengasuhan anak. Jangan terbuai dengan iming-iming kepraktisan yang ditawarkan. Semua teknologi jelas memakai topeng pahlawan di awal, orangtua harus selalu mempertimbangkan bagaimana dampak teknologi tersebut dalam jangka panjang. Mengambil contoh dari film ini, di awal kita disuguhkan bahwa ibu gegabah menggunakan teknologi ini karena praktis dan bebas biaya. Ia tidak mempertimbangkan bagaimana dampaknya apabila teknologi yang masih tahap uji coba ini bersifat permanen.
  2. Komunikasi dua arah antara orangtua dan anak adalah kuncinya. Tidak ada jalan pintas selain obrolan langsung, saling mendengarkan, saling berbagi pendapat, terbuka, jujur antara orangtua dan anak. Di film ini, dapat kita lihat bahwa ibu berperan sebagai pengontrol dan anak sebagai yang dikontrol. Ibu memang mengawasi dan melindungi sang anak, tetapi tidak benar-benar mengenal sang anak.
  3. Masa kanak-kanak terutama ketika anak memasuki usia golden age, adalah usia krusial bagi perkembangan anak. Apabila anak hanya memiliki sedikit pengalaman berinteraksi dengan sekitarnya, maka tumbuh kembangnya akan terhambat. Kita dapat lihat di film ini sang ibu terlalu cemas terhadap anak sehingga ia mengaburkan/memblokir berbagai hal yang menurutnya berdampak buruk pada anak. Alih-alih memblokir/mengaburkan, akan lebih baik apabila ibu tetap membiarkan anak mengenal lingkungan sekitarnya dengan apa adanya, membiarkan ia berpendapat, dan meluruskan pemikiran anak apabila ada pemahaman yang keliru. Setidaknya, orangtua dan anak sama-sama belajar satu sama lain: orangtua belajar menekan ego dan memahami anak lebih baik tentang dunianya, anak pun belajar mengenai dunia dari sudut pandang orangtua.
  4. Emosi negatif seperti marah, kecewa, jengkel, sedih, gelisah bukan untuk dihindari, melainkan diterima bahwa emosi tersebut memang ada. Emosi tersebut normal karena sebagai manusia kita semua merasakannya. Hanya saja, perlu pengelolaan yang baik terhadap emosi tersebut agar tidak merugikan orang lain maupun diri sendiri. Kita ambil contoh dari film tersebut, sang ibu tidak ingin anaknya merasakan segala emosi negatif sehingga ia sengaja mengaburkan/memblokir pandangan dari hal-hal yang memicu emosi negatif tersebut. Akan lebih baik bila ibu mendampingi anak bereaksi dengan segala kompleksitas emosinya dan membekali anak agar ia mampu mengendalikan emosi negatif dengan cara yang tepat. Misalnya, ketika anak berhadapan dengan anjing yang menggonggong dan anak menjerit atau menangis, ibu dapat menenangkan anak dan menjelaskan bahwa anjing tersebut tidak akan menggigit karena ia di dalam kandang/pagar. Selain itu, sang ibu juga bisa menjelaskan bahwa perasaan yang dialami anak saat itu adalah takut. Ibu dapat memberikan pemahaman kepada anak bahwa cara untuk mengendalikan rasa takut adalah dengan mengatur pernapasan agar pikiran kembali tenang, misalnya.

Saya tidak berkata bahwa teknologi itu selalu buruk dan kita harus menjauhkan diri dari teknologi. Teknologi memiliki dua sisi, ada positif dan negatif. Saya menegaskan bahwa menghamba pada teknologi yang berbahaya. Membiarkan teknologi mengambil alih pengasuhan anak, itulah yang berbahaya. Memercayai teknologi lebih baik dalam mendidik anak daripada orangtua itu sendiri, itulah yang berbahaya. Memercayai apa yang dikatakan teknologi daripada anak sendiri, itulah yang berbahaya. Technology, the devil sometimes appears as an angel…

 

Sebelumnya Bangga Bertani bersama Petani Berdasi
Selanjutnya Entrok: Membaca Kisah Marni dan Rahayu

Belum ada komentar

Tinggalkan pesan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *