Bada’a Li Rinong: Bedak Tradisional yang Hadir Kekinian


Hai Pilajars!

Cerita profesi kali ini mengangkat kisah tentang Muhriani Ali, seorang pengusaha bedak dingin asli daerah Gorontalo atau yang biasa disebut Bada’a. Langkah yang diambil Muhriani atau yang bisa dipanggil Rini ini bisa dibilang adalah langkah yang cukup berani. Perempuan kelahiran Gorontalo 29 Juli 1991 dan tercatat sebagai Lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Negeri Gorontalo Jurusan Akuntansi ini berusaha mempopulerkan kembali sesuatu yang keberadaannya mulai dilupakan, menjadi sesuatu yang kekinian ditengah kaum millenials.

Sekarang seakan tabu ketika kita tidak mengikuti sesuatu yang kekinian. Karena mencakup segala hal, perlu strategi khusus untuk menyesuaikan diri dengan keinginan zaman yang penuh dengan milenials, kaum yang mungkin sebagian besar selalu tertarik dengan hal-hal yang berbau ‘kekinian’. Berikut cerita perjalanan Muhriani menghadapi segala tantangan hingga membangun bisnisnya yang sudah dikenal di beberapa daerah di Indonesia.

Cerita ini bermula ketika saya memutuskan untuk resign dari salah satu Bank BUMN beberapa bulan lalu. Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara yang hobi memasak, tentunya perlu mengambil peran penting sebagai salah satu anak yang bisa diandalkan dalam keluarga. Sebelum resign dari bank kemarin itu sempat mikir, kalau resign nanti, harus bisa lebih maju dari pekerjaan sebelumnya. Makanya saya pernah ikut paytren, agen pulsa, juga brilink.

Sampai akhirnya kepikiran bikin bada’a ini. Awalnya bisnis ini saya jalankan hanya karena iseng. Iseng dalam artian dipakai sendiri terus memberikan ke keluarga-keluarga terdekat. Hingga kemudian saya mendapat petunjuk dari Yang Maha Kuasa, kenapa nggak sekalian saya produksi dalam jumlah banyak. Dari segi ketersediaan di market masih langka, kompetitor yang menjual juga masih sedikit dan produknya cukup unik. Sejak saat itu, saya mulai membuat bada’a dengan jumlah banyak, lalu ditawarkan ke teman-teman. Alhamdulillah, responnya bagus. Saya mulai memasarkannya di media sosial agar bisa merambah market yang lebih luas.

Seiring berjalannya waktu, hadirlah beberapa produk serupa karena memang sudah ramai di pasaran, walaupun produknya tidak sama karena kompetitor buat produk bada’a tapi bentuknya pasta. Karena itu saya berpikir untuk membuat label sendiri yang saya beri nama “Bada’a li rinong”, demi kenyamanan dan keamanan konsumen. Persoalannya bukan karena takut produk saya ditiru tapi namanya juga usaha kita perlu membuat inovasi-inovasi agar dapat tetap bersaing di pasaran dan menjamin keamanan produk. Konsekuensi yang harus dihadapi pasti ada yang suka dan ada yang tidak suka dengan bisnis yang saya lakukan.

Mengutamakan Kualitas dan Pelayanan

Sebenarnya yang berjualan bada’a kering seperti punya saya ini banyak di pasar hanya berbeda kualitas. Ada juga yang jualan di Instagram, bada’a tapi bentuknya pasta. Kualitas dan pelayanan pelanggan selalu saya utamakan. Bahan bada’a yang saya gunakan adalah bahan-bahan organik tanpa bahan pengawet dan saya rekomendasikan ketika dipakai menggunakan air biasa saja. Hasil riset saya di lapangan tanpa bermaksud mengunggulkan bada’a saya, banyak pelanggan mengatakan kualitasnya berbeda dan jauh lebih baik bada’a yang saya produksi. Kepentingan costumer yang utama dan itu dimulai dari komitmen kita sebagai produsen. Insya Allah akan terus seperti itu.

Terkait bahan yang digunakan untuk membuat bada’a ini, saya memilih mendapatkan semua bahan dari pedagang di pasar tradisional sekaligus membantu kelancaran jualan mereka. Bahan-bahan seperti tepung beras, kunyit, kayu cendana, semua dari pasar tradisional. Prinsipnya simbiosis-mutualisme antara saya dengan pedagang.

Perihal resep bada’a ini diwariskan oleh ibu saya yang asli Sunda dan sangat ahli membuat bedak tradisional. Jadi, Sunda kenal bada’a begini, mirip dengan bada’anya Gorontalo. Boleh dikata resep bada’a Gorontalo yang diracik dengan budaya Sunda. Sehingga bada’a sejenis yang dijual di pasar-pasar dengan bahan dasar yang sama, hasilnya akan tetap berbeda.

Sebelum berjualan bada’a, saya pernah mencoba berbagai macam krim dengan harga yang cukup mahal, tapi saya merasa bahwa biaya yang harus dikeluarkan cukup banyak dan hasil yang didapatkan tidak sesuai ekspektasi dan juga saya mulai sadar akan bahaya terlalu sering menggunakan produk-produk berbahan kimia. Makanya ketika bisnis bada’a ini berjalan, saya beralih untuk menggunakan bada’a buatan saya sendiri. Ini juga sebagai contoh untuk pelanggan yang ingin membeli. Alhamdulillah pelanggan saya mulai merasakan efek positifnya dan sedikit demi sedikit mulai melepas krim muka yang sebelumnya mereka pakai.

Alhamdulillah sampai saat ini saya belum pernah mendapat komplain dari pelanggan dan juga belum pernah mendapat halangan yang begitu berat dalam menjalankan bisnis ini. Bahkan costumer saya sudah merambah ke beberapa daerah yaitu Jakarta, Bekasi, Kalimantan Selatan, Makassar, Kotamobagu dan Bandung.

Inovasi dalam Menjalankan Bisnis Bada’a

Menjalani sebuah bisnis tentunya kita tak boleh stagnan dengan satu metode ataupun varian produk. Dalam perjalanan bisnis bada’a, saya sudah kembangkan dengan membuat beberapa varian baru, yaitu bada’a kopi dan kunyit. Cukup sederhana dalam pembuatannya, biji kopi digiling, kemudian dicampurkan dengan bada’a, begitu juga kunyit. Khusus untuk bada’a kunyit, respon dari pelanggan sangat bagus, sedangkan bada’a kopi belum bisa kami beri kesimpulan karena produknya baru diperkenalkan ke pelanggan. Kedua varian terbaru ini memiliki manfaat yang hampir sama, hanya perbedaan manfaat secara langsung yang dirasakan pelanggan karena yang paling terasa hanya di aroma saja. Tujuannya tetap sama, bisa membantu mengatasi masalah kulit tanpa merusaknya.

Harapan Muhriani sebagai Pelaku Bisnis Bada’a

Sebagai pelaku bisnis, tentunya saya mempunyai mimpi agar bada’a lebih dikenal orang bahkan semua orang di Indonesia. Cantik tidak harus mahal dan tidak harus menggunakan kosmetik yang mengandung bahan-bahan berbahaya. Pokoknya say no to bahan kimia. Apalagi sekarang banyak kosmetik yang membuat ketergantungan yang memberikan efek samping jika tidak digunakan lagi. Kalau ada yang alami, kenapa harus menggunakan yang berbahaya untuk kulit?

Walaupun banyak yang menganggap bisnis saya mulai menanjak, tapi saya masih merasa belum pantas untuk dikatakan sukses. Saya hanya berpesan kepada siapa saja yang ingin mulai bisnis untuk meminta restu orang tua, percaya diri karena kita berhadapan dengan banyak orang, harus juga ramah dengan orang, jujur, low profile. Yang paling utama tidak mudah berbangga diri, perbanyak doa dan sedekah.

Belajar dari Jamu Nyonya Meneer yang digugat pailit, sudah saatnya kita memerhatikan sesuatu yang tradisional dengan keunggulannya menggunakan bahan alami dan aman untuk kesehatan. Keunggulan ini yang kemudian bisa dikemas untuk menjadi sesuatu yang kekinian, mengikuti perkembangan zaman yang kadang melupakan usaha-usaha pelestarian budaya. Memodernkan kemasan dan cara pemasaran bisa jadi langkah awal untuk mengunggulkan karya anak bangsa dalam usahanya membangkitkan kebudayaan negeri sendiri, tanpa melupakan esensi zaman yang harus selalu terkini.

Sebelumnya 12 Years a Slave (2013): Perbudakan Jangan Pernah Berumur Panjang
Selanjutnya Analog Mood

Belum ada komentar

Tinggalkan pesan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *