5 Film Indonesia dengan Tema Tak Biasa


2016 adalah tahun kembalinya penonton film Indonesia ke bioskop. Berdasarkan ulasan yang dituliskan Cinema Poetica bahwa Jumlah penonton film Indonesia mencapai 34,5 juta, melampaui 32 juta penonton yang pernah dicapai pada 2008. Sayangnya, dari 34,5 juta penonton film Indonesia pada 2016, 80% atau 27 juta penonton disumbang oleh 10 film saja. Tema-tema film pun masih sama saja, bahkan seperti di tahun 2017 sekarang, kita akan ramai-ramai menikmati film remake dan sekuel.

Pilajar merekomendasikan 5 film Indonesia yang kami anggap sebagai gebrakan, mengangkat isu yang sebelumnya tidak dilirik. Keberanian ini juga memiliki risiko, bahwa secara komersil film-film ini akan mengeluarkan banyak dana untuk produksi, tapi tak laris manis di bioskop. Penonton Indonesia terus dicekoki film dengan formula yang terus berulang. Keberhasilan akan satu tema cinta misalnya, diikuti oleh puluhan film lainnya dengan tema serupa.

Raksa Santana dalam tulisannya berjudul Laris Tak Selalu Manis menyebutkan bahwa seakan-akan industri film Indonesia baru bertanggung jawab membuat penonton datang ke bioskop, namun belum bertanggung jawab untuk pengalaman menontonnya.

Atambua 39º Celsius

Film ini terbilang berbeda karena menerapkan inovasi baru yang belum banyak dilakukan penggiat film Indonesia, yakni sistem crowd funding. Mira Lesmana sebagai produser mengajak semua masyarakat baik dalam dan luar negeri untuk berpartisipasi mendanai pembuatan filmnya. Melalui kerja kerasnya, 30% dari dana yang dibutuhkan berhasil terkumpul dari 2 orang investor yang tidak disebutkan namanya. 70 % sisanya didapat melalui pengumpulan dana.

Hubert Bals Fund (HBF), satu program pendanaan yang bernaung di bawah Internasional Film Festival Rotterdam di Belanda, tertarik pada profil film Atambua 39° Celsius dan memilihnya sebagai salah satu penerima dana bantuan produksi film sebesar 20 ribu euro dalam kategori produksi digital. Belum selesai sampai disitu, Mira Lesmana masih membutuhkan 300 juta lagi untuk mewujudkan film ini. Dalam waktu tiga bulan, terkumpullah Rp 312.837.000 (dari 102 supporter) melalui sebuah website crowd funding, wujudkan.com. Film ini juga mendapat bantuan dari FourMix Audio Post dan ELTRA Studio untuk post processing. Film Atambua 39° Celsius meraih Official Selection pada International Film Festival Rotterdam tahun 2012.

39º celsius merupakan ambang batas manusia bisa mengontrol pikirannya. Di atas suhu itu, demam akan menguasai tubuh dan sulit menjaga keseimbangan dan kesadaran diri. Persoalan yang membuat otak mendidih karena 39º celsius di ambang batas kesadaran. Itulah yang ingin digambarkan melalui film ini. Seperti kata Riri Riza, sutradara film tersebut, “Ini film pertama saya yang mengeksplorasi bahasa dan kebudayaan lokal Timor, bukan dalam konteks tradisi, tapi tentang persoalan hari ini.” Di wilayah-wilayah inilah terdapat penduduk Indonesia yang meletakkan garuda di dadanya.

Film Atambua 39° celsius bercerita tentang kehidupan Joao (Gudiono Soares) dan ayahnya, Ronaldo (Petrus Beyleto). Ronaldo seorang supir pemabuk dan gemar berjudi. Sebagai anak lelaki, Joao harus mengikuti ayahnya yang memilih tetap menjadi warga negara Indonesia. Joao, sang anak mulai merasakan ketertarikan pada Nikia (Putri Moruk), gadis dari Timor Leste yang datang ke Atambua untuk berziarah ke kuburan kakeknya.

Konflik dalam filmnya berawal dari Ronaldo. Teman-teman Ronaldo terus memaksanya kembali ke Timor, akan tetapi Ronaldo menolak mentah-mentah. Ia lebih memilih tetap di Indonesia dan bersumpah tidak akan kembali ke Timor sampai Timor kembali ke pangkuan Indonesia. Namun, Joao belum tentu mengikuti prinsip ayahnya. Ia terpisah dengan ibunya saat berusia 5 tahun. Ibu dan 2 adiknya tinggal di Liquica, Timor Leste setelah referendum 1999.

Riri menggunakan pendekatan realis yang seolah-olah menggambarkan adegan filmnya sebagai film dokumenter. Semua adegan terasa dekat dan intim membuat penonton merasa masuk ke dalam persoalan. Film ini seakan kembali mengingatkan kita, kalau kita masih memiliki saudara di bagian Timur Indonesia yang sangat membutuhkan perhatian. Banyak keluarga terpecah demi pilihan politik.

Tak ada bangsa atau negara manapun yang bisa mencabut asal-usul kita.

Quickie Express

Suguhan Quickie Express adalah sebuah komedi yang dewasa dan dirangkum dalam naskah yang cerdas dan cerkas. Film ini memiliki elemen kejut yang menyenangkan dan menampilkan begitu banyak sindiran yang diselipkan dalam momen komedinya.
Bercerita tentang Jojo (Tora Sudiro) yang tergiur oleh penawaran yang dilakukan seorang pria yang membawanya ke rumah makan pizza bernama Quickie Express. Ternyata dibalik kedoknya sebagai rumah makan, tempat tersebut juga menyediakan jasa gigolo. Perjalanan Jojo menjadi gigolo tidak mudah dan harus melewati beberapa tahap yang dimulai dari sebuah training yang mempertemukannya dengan dua gigolo baru yang seangkatan, Marley (Amink) dan Piktor (Lukman Sardi). Walaupun awalnya mereka bertiga kesulitan, setelah beberapa bulan berjalan mereka menjadi terbiasa dan bisa menikmati hasil kerjanya. Jojo sendiri mulai dekat dengan seorang gadis bernama Lila (Sandra Dewi). Tanpa disadari kedekatannya dengan Lila membawa permasalahan baru.
Pada akhirnya Quickie Express menjadi sebuah komedi dengan eksekusi yang baik dan menghasilkan salah satu komedi lokal paling menghibur yang pernah ada. Menghadirkan drama komedi dewasa nan renyah tentang gigolo. Dengan cerita yang sangat unik, candaan yang menggelitik dan penggambaran dari sisi sensualitas yang cerdas dan berani menjadikan film ini patut untuk disimak.

Berbagi Suami

Berbagi Suami dengan judul internasional Love For Share mengangkat isu poligami dan menghadirkannya lewat sudut pandang perempuan. Berbagi Suami memang terasa sebagai film yang feminis. Nia dinata sebagai sang sutradara menyampaikan segala kritikan serta kegundahannya lewat tiga cerita yang meski punya tema sama, namun dengan situasi yang berbeda-beda.
Cerita pertama berkisah Salma (Jajang C. Noer), seorang dokter yang terpaksa menerima kenyataan bahwa suaminya (El Manik) seorang pengusaha sekaligus politikus telah menikah lagi dengan Indri (Nungki Kusumastuti). Kondisi tersebut berjalan hingga 10 tahun yang menyebabkan putranya, Nadine (Winky Wiryawan) tumbuh dengan amarah pada ayahnya. Cerita kedua tentang Siti (Shanty), seorang gadis lugu yang baru saja tiba di Jakarta untuk mengikuti kursus makeup. Di sana ia tinggal bersama Pak Lik (Lukman Sardi), seorang supir rumah produksi film yang telah mempunyai dua orang istri, Sri (Ria Irawan) dan Dwi (Rieke Diah Pitaloka). Dari dua istrinya, Pak Lik sudah memiliki banyak anak dan mereka pun harus tinggal berdesakan di sebuah rumah kecil di dalam gang. Kedua istri Pak Lik hidup rukun dan mereka juga yang menbantu Siti saat akhirnya tahu Pak Lik berniat menjadikannya istri ketiga. Selanjutnya, cerita terakhir berfokus pada Ming (Dominique), seorang gadis muda keturunan Tionghoa yang bekerja sebagai pelayan di restoran bebek milik Koh Abun (Tio Pakusadewo). Keberadaan Ming yang cantik dan seksi membuat banyak pengunjung pria senang makan di sana termasuk Firman (Reuben Elishama). Disisi lain, Koh Abun ternyata menyukai Ming dan berniat menikahinya tanpa sepengetahuan sang istri, Cik Linda (Ira Maya Sopha).
Berbagi Suami menyajikan kritikan terhadap poligami dengan begitu mengena. Berbagi Suami hadir dengan atmosfer yang tidak terlalu serius, dalam artian ada banyak sentuhan komedi. Tema lesbian juga turut dimasukkan di sini. Overall, Berbagi Suami adalah film yang spesial.

Ca-bau-kan

Ca-bau-kan dengan judul Internasional The Courtesan merupakan film drama romantis yang dirilis pada tahun 2002. Kisah filmnya diangkat dari novel Ca-Bau-Kan: Hanya Sebuah Dosa karya Remy Sylado. Ca-bau-kan pertama kali ditayangkan di tingkat internasional dalam Asia Pacific Film Festival tahun 2002 dan kemudian dalam Palm Springs International Film Festival tahun 2003. Film ini mengangkat budaya Tionghoa Peranakan di Hindia Belanda dan Indonesia.

Istilah Ca-bau-kan merupakan Bahasa Hokkian yang berarti “perempuan”. Saat zaman kolonial, Ca-bau-kan diasosiasikan dengan pelacur, gundik, atau perempuan simpanan orang Tionghoa. Pada zaman kolonial Hindia Belanda, banyak Ca-bau-kan yang sebelumnya bekerja sebagai wanita penghibur sebelum diambil sebagai selir oleh orang Tionghoa.

Ca-bau-kan dianggap cukup kontroversial saat pertama kali rilis. Pertama, film ini adalah film Indonesia pertama yang menggunakan judul bahasa asing (Hokkian) yang tidak akan boleh digunakan pada era Orde Baru. Kedua, film ini adalah film Indonesia pertama yang sarat dengan tema budaya dan bahasa Tionghoa Peranakan yang kental pada zaman kolonial Hindia Belanda. Film ini juga adalah film Indonesia pertama yang menggambarkan peran orang Peranakan dan etnis Tionghoa dalam perang kemerdekaan 1945-1949.

Ca-Bau-Kan adalah sebuah gebrakan.

Kala

Kala adalah Film Noir yang dianggap sebagai loncatan dalam dunia perfilman Indonesia. Kala menceritakan tentang bagaimana kehidupan pada zaman tersebut di sebuah negara antah-berantah, mulai dari konflik politik, budaya, nilai dan norma yang berlaku. Digambarkan pula bagaimana rendahnya sisi kemanusiaan seseorang terhadap orang lain pada masanya. Segala kejahatan bisa dilakukan oleh siapa saja, dari kalangan manapun dengan tingkat kemampuan ekonomi yang beragam.

Kala berlatarbelakang di sebuah negeri antah-berantah dengan setting tahun 50-an. Kala punya beberapa sisi cerita yang nantinya cerita-cerita tersebut akan dipertemukan. Menceritakan dua orang polisi, Eros (Ario Bayu) dan Hendro Waluyo (August Melasz) yang menginvestigasi sebuah kasus tentang lima orang yang dibakar oleh warga di sebuah stasiun. Kemudian hadir pula Janus (Fachri Albar), seorang jurnalis pengidap narkolepsi, serangan tidur, dimana seseorang sulit mempertahankan keadaan sadarnya. Seperti dua polisi tersebut, Janus juga menyelidiki kasus lima orang yang dibakar tersebut yang akhirnya mempertemukannya dengan Ratih, istri dari salah satu korban yang sedang hamil dan sedang berada di rumah sakit. Sayang sekali, Janus tak dapat satupun informasi, karena itu ia akhirnya menyembunyikan sebuah tape recorder di pot yang terletak dekat Ratih. Dari tape recorder inilah semua misteri itu akan terpecahkan dan membawa mereka semua pada kejadian-kejadian tak terduga.

Kala akan mempertemukan Sang Penidur yang terus menjaga rahasia soal harta karun dan juga Ratu Adil yang akan membawa kedamaian bagi kehidupan, tapi saat itu juga kejahatan terus mengintai mereka. Kebaikan dan kejahatan memang akan selalu bersanding. Mari menonton Kala.

Sebelumnya Partisipasi Politik Aktif Mahasiswa Rantau: Menentukan Pemimpin Sul-Sel Mendatang
Selanjutnya Urbanisasi dan Timpangnya Kebijakan

Belum ada komentar

Tinggalkan pesan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *